Tampilkan postingan dengan label Mike. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mike. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 16

 Aku berpikir, nasibku dan hubungannya dengan kasus ini, bersamaan dengan laki-laki berambut emas yang pendiam, telah berakhir. Berjalan di sepanjang koridor kantor, aku mengetuk dokumen file secara ringan di dinding samping; Ini sudah berakhir, tapi aku masih merasa bahwa ini belum berakhir.
Tapi, begitulah kehidupan.
Kadang-kadang, takdir antara semua orang benar-benar aneh. Sibuk dengan hal-hal lain dalam kesehariannya. Terkadang, aku masih berpikir tentang anak laki-laki yang hanya bisa kutemui beberapa kali di dalam perjalanan pulang dari pekerjaanku. Aku akan mengingat bagaimana cara dia menuangkan secangkir teh, terkadang, kehangatannya akan muncul dalam sekejap di dalam pikiran saya, dan potongan demi potongan memori akan menumpuk secara terus menerus, menekan di dalam otak. Aku juga akan mengingat bayangan tangannya pada saat menggigil selama masa persidangan.
Akupun menyadari bahwa ini tidaklah normal, dan berpikir bahwa itu akan menjadi sangat penting bagiku untuk menemukan secepatnya pasangan di Bar.
Sesampainya di rumah, aku mulai melihat video masa lalu kelompoknya dan semua informasi. Tentu saja, ia merupakan standar tipe seorang pemimpin; Ia berusaha melalui berbagai macam jenis halangan untuk menjelaskan dan nama grupnya serta lagu di dalam album, terkadang ia juga bisa mengomel layaknya seperti orang tua. Aku mengenali dengan jelas wajah Luhan dan Yixing untuk pertama kalinya. Mereka sering bersama-sama, baik satu dengan yang lainnya atau menyebabkan gangguan pada orang-orang di sekitarnya dan Kris akan akan selalu mengawasi mereka dalam keadaan frustasi dan kegembiraan.

Rabu, 14 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 13



Keluar dari ruang kontrol, aku merasa perlu untuk menghirup udara segar. Remaja emosional ini telah membalikkan badannya memunggungi kami, kepalanya menghadap dinding, memungkinkan dirinya sendiri sebuah tempat yang meyakinkan dan aman untuk menitikkan air mata.

Jika seseorang sedih, air mata harus dibiarkan mengalir. Ini, mungkin sesuatu yang tidak diajarkan padanya dalam perusahaan Korea tersebut.

Dia memperlakukanku seperti seorang pendeta, menceritakan rahasia dan mengharapkan aku untuk menebus jiwanya. Aku tidak bisa, pada kenyataannya, aku akan menjual jiwanya. Satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mengkhianatinya, pada akhirnya adalah dirinya sendiri.

Malam itu, dia yang pasti kelelahan, tidak memiliki apapun untuk dikatakan. Aku berjalan sendiri ke teras untuk menghela nafas  dan ketika aku kembali, seluruh kantor polisi telah meledak menjadi sebuah kekacauan, seorang wanita Korea mengenakan pakaian kantor dengan ekspresi bingung sedang berbicara dengan David, melambaikan ponsel di tangannya. David memberi isyarat padanya untuk menenangkan diri berulang kali, menginstruksikan Mike untuk menemukan penerjemah pada satu sisi sementara di sisi lain ia mencari sebuah pena dan kertas dalam persiapan untuk melakukan beberapa rekaman pernyataan.

Ini jelas bukan urusanku, Kris di kejauhan masih tergeletak di ruang monitoring, tidak dapat menyaksikan kepanikan yang terjadi di luar. Baginya, cerita telah berakhir dari hari sebelumnya, tidak mengetahui penyebab dan hasil, hanya mengalami proses, mungkin bagiannya tak lagi penting. Manusia tidak memakai polariisator ketika mengamati sudutnya, rasa sakit, kebahagiaan, sukacita dan depresi semua hanya muncul sebagai debu di mata Tuhan.

Minggu, 21 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 6


Keesokan sorenya, suara dentingan gelas dan botol dari luar samar-samar membangunkanku. Semua orang mengerutkan alis mereka mungkin karena jetlag dan ketakutan,  tapi tetap saja tidak ada yang mampu melawan kelelahan.

"Apa yang mereka lakukan?" Sehun membalikkan tubuhnya seraya mengggumam.
"Seseorang mungkin akan datang untuk menyelamatkan kita," aku menutup mata lagi dan mengerutkan alisku "Kebenaran terungkap, dan ada polisi diluar."
"Jelas itu adalah hal yang terbaik, namun..." kata Kyungsoo, "Bukankah kau pikir mereka datang agak sedikit terlambat?"
Baekhyun mengucek matanya dan berdiri, menatap pintu dan berkata, "Aku akan pergi keluar dan melihat."
Saat ia berdiri, kuhadapi rasa lelahku, berjuang untuk bangkit dan terhuyung-huyung ke arahnya, "Aku akan ikut denganmu."

Kami kecewa karena tidak ada polisi dimana-mana, melainkan hanya Chanyeol dan Luhan yang sedang menempatkan beberapa gelas kosong di meja. Jongin dan Tao sedang duduk di sofa, masing-masing memegang 3 botol Vodka dan Tequila dan bersuara kepada kami, "Kami terlalu haus dan kami menemukan beberapa botol alkohol, mari kita minum bersama."
Sebuah Scorpion hitam yang tertidur digambar pada meja kaca dalam semalam, dan seketika, kecepatan detak jantungku jadi tidak karuan.
"Siapa yang menggambar ini?" Kata Baekhyun.
"Aku." Kata Chanyeol, "Kalian datang terlambat, dan aku merasa bosan jadi aku menggambar sedikit."
"Apakah kau begitu merindukan Kris?" Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol dan mendorongnya sedikit, mengucek matanya, berbalik dan kembali berjalan ke kamar tidur. Ia mengetuk pintu dan berteriak, “Bangun! Kita akan minum alkohol!”
Aku menatap Scorpion yang digambar di atas kaca dan hatiku berdebar. Samar-samar aku teringat sesuatu, tapi rasanya seperti mimpi.

Rabu, 17 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 2



KRIS' POV

Cuaca LA lebih dingin dari yang diperkirakan, tapi selain itu, hari itu tidak ada yang berbeda. Sebelum pendaratan pesawat, kami berjalan menuju area bagasi. Chanyeol, Baekhyun dan Jongin berjalan didepanku dan terdengar olehku suara lengkingan Baekhyun dan tawa berat Chanyeol. Leader Junmyun, D.O, Jongdae dan Minseok berada di bagian tengah ketika Luhan dan Sehun terus menempel berduaan seperti biasanya dan bertindak seperti tak dilihat oleh siapapun. Tao disebelahku menunjukkan ekpresinya yang frustasi karena foto predebutnya yang tersebar di internet kemarin malam. Yixing seperti biasanya terdiam di belakangnya berkutat dengan headphone di telinganya memperhatikan sekitarnya.

Aku memperlambat langkahku padanya, menariknya menghadapku,”Kamu harus berheti mendengarkan musik kalau tidak kau tidak akan medengar orang memanggilmu nanti.” kataku. Dia melihatku kebingungan dan memberikan ekspresi mengerti, ”Ok. No problem.” Namun dia masih belum mau melepaskan headphonenya. Aku berbalik pasrah dan kembali pada Tao dan masalah yang dia pikirkan. Aku tetap pada moodku yang sedang tidak baik karena insomniaku semalam, aku memikirkan Yixing yang ditegur manajer dan diberikan sedikit skorsing dan itu berarti liburanku akan terbuang juga.

“Kenapa kau terlihat kesal dan berekspresi seperti orang tuamu meninggal saja? Atau ada yang kurang jelas dari ucapanku?” Luhan selalu banyak bicara seperti biasa saat kami menunggu koper kami.  Yixing melepaskan headphonenya, ia berkata,”Dia diam-diam sedang turut berduka cita atas hidupmu.”

48 HOURS - CHAPTER 1



Kesan pertama yang terlihat, orang ini tidak terlihat dapat bertindak kasar. Aku mengerti orang-orang segan untuk berbicara dengannya dan menganggap orang ini tidak mengerti apa yang akan mereka bicarakan. Tapi jauh di dalam dirinya, anak ini normal.

“Hello,” Aku menutup pintu ruang kontrol . “Namaku Frank.”  
Aku menatapnya membungkuk sebentar dan duduk, “Kau mau segelas kopi?”
Tak ada respon yang diberikannya pada tawaranku, dia tidak terlihat tertarik dengan pertanyaan yang ada.

“Sebenarnya diriku sendiri tidak menyukai Kopi di Bureau ini, rasanya kurang enak, jadi aku membawakanmu teh...” kataku, “Ini kopi dari kebun yang baik, kau mau mencobanya?” 
Saat aku berbicara, saat itu juga aku memberi aba-aba agar Mike membawakan teh masuk ke dalam ruangan.

“Aku dengar kau sudah lama tidak minum, kau bisa dehidrasi.” Aku menatapnya, “ Yah terkecuali kau mau meninggalkan dunia ini.” Dia mulai terlihat bergerak dan terdapat gerak gerik dari matanya. “Aku bukan polisi, bukan juga temanmu yang mengajakmu mengobrol dan juga bukan seorang nanny yang akan menyemangatimu.” kataku tersenyum. “Aku dokter, orang yang sangat kamu butuhkan untuk saat ini.”

Dia tak menjawab.

“Karena kau tidak gila, mentalmu stabil dan kau tidak mengalami amnesia apapun. Kelakuanmu dan emosimu saat ini sama seperti orang luar sana, kehidupanmu juga sama seperti mereka. Kamu tidak perlu menanggapi pendapat ini tapi daya tahan tubuhmu lebih baik dari orang yang biasanya seumurmu. Meskipun kau telah melakukan percobaan bunuh diri, kau masih tetap hidup sampai sekarang.”

Kris merendahkan kepalanya dan menjatuhkan tatapannya ke lantai.

48 HOURS


PROLOG



Akhir-akhir ini, cuaca di LA cukup cerah dan menyenangkan, meskipun demikian tidak ada penurunan jumlah pasien yg berbeda jauh saat ini. Seperti biasa sekretarisku selalu memprotes tentang betapa penting pekerjaannya namun di saat yang sama ia merasa tidak dihargai. Ia merasa mendapat sangat sedikit istirahat saat harus mengangkat telpon, mengurus pasien yg mengacuhkan, atau melakukan hal-hal di luar batasan-batasan.

Aku adalah seorang psikiater berusia 42 tahun, masih single dan telah memegang lisensi praktik di Amerika selama lebih dari 10 tahun. Pada intinya aku tidak memiliki banyak ketidakpuasan maupun harapan dalam hidupku.

Sejak hari-hari sekolahku, LA tidak pernah begitu damai sebelumnya, namun itu bukan alasanku untuk memilih jurusan psikologi. Bagaimanapun ketika memilih pendidikan S3ku, aku tak bisa menghindar dari ketertarikanku. Aku mengakui bahwa pilihanku mengambil jurusan psikologi kriminal ini sangat berhubungan dengan ketertarikanku yang tinggi tentang hubungan psikologi pada kasus suami-istri. Aku mengerti bahawa hidup tidaklah mudah, 4 tahun yang lalu seorang ayah yang autis berumur 40 tahun menjadi tersangka atas pembunuhan anaknya--yang dibungkus dengan plastik dan dimasukkan dalam peti diletakkan 2 km dari rumahnya. Istrinya yg berkebangsaan Thailand, tidak bisa berbahasa Inggris, keadaan psikologinya menjadi tertekan setelah kejadian tersebut. Aku ingat itu sebagai suatu hal yang tidak terlalu menyenangkan saat natal, mengintrogasi seseorang di dalam sebuah ruangan kontrol di kantor pusat. Pria tersebut duduk bersebrangan denganku, tiba-tiba meneteskan dua tetes setetes air mata yang kemudian dapat memenuhi segelas cangkir kopi.