Tampilkan postingan dengan label Chen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juli 2014

최고의 행운 (Best Luck) Hangul Lyrics

아무래도 난 니가 좋아
아무런 말도 없이 웃던 나를 안아줘 babe
오늘을 기다렸죠 그대 달콤한
나를 봐요 그대 ye 지켜줄게요 babe
매일 매일 꿈을 꾸죠
그대 손을 잡고 날아가 영원히 언제 까지나

보고 싶은 나의 사랑 운명 이죠 피할수도 없죠
Every day I'm so lucky
숨겨왔던 내 맘을 고백 할래 너를 사랑해  

떨리던 내 입술도 그대 설레던
이 마음도 그대 내 사랑이죠 babe
이런게 사랑 인걸 알죠
그대가 있어 행복 하죠 ye 사랑이예요 babe
매일 매일 꿈을 꾸죠
그대 손을 잡고 날아가 영원히 언제 까지나

보고 싶은 나의 사랑 운명이죠 피할수도 없죠
Every day I'm so lucky
숨겨왔던 내 맘을 고백 할래 너를 사랑해

나의 모두를 걸만큼 널 사랑하고
아껴준다고 그대 약속할게요  워
시간 지나 모두 변해도
이 세상이 끝난다 해도 나의 사랑아  아

그대 내게 행운이죠 피할수도 없죠
Every day I'm so lucky 숨겨왔던
내 맘을 고백 할래 너를 사랑해

Selasa, 18 Desember 2012

[HQ SCAN] EXO 2013 CALENDARS

click picture to see the original size.
credits are captioned.

DESK CALENDARS

GLOBAL VERSION : IT'S SHOW TIME!





credit: Body n Soul
credit: Body n Soul

credit: http://weibo.com/clovergj

Selasa, 04 Desember 2012

48 HOURS - EPILOG



Kris POV:

Hari itu, kami ada di backstage setelah menyelesaikan konser kami di Tokyo. Yixing membungkuk kepada seluruh staff, tak peduli mereka saling kenal atau tidak; Chanyeol sedang tertawa dengan suaranya yang serak dan keras, mengambil confetti emas dari rambutnya ke rambutku, Luhan dan Sehun sudah mulai saja mendiskusikan tentang sebuah game terbaru; Jongin memberi Baekhyun sebuah box segitiga yang dibungkus rapi, orang yang diberi memeluk Jongin, tersenyum dan meloncat-loncat setelah membuka box tersebut, memegang sebuah eyeliner.

 “Leader, aku sedikit terpeleset ketika aku menampilkan martial art, mereka tak bisa menyadarinya kan?” ucap Tao khawatir.
“Mereka tak bisa menyadarinya, jangan khawatir.” Luhan memotong pembicaraan, tidak memedulikan gamenya. “Tadi ada begitu banyak orang, begitu rusuh, tidak ada seorangpun yang telah melihatmu”
“Aku sangat tinggi dan dapat dikenali oke.” Tao menunjuk hidungnya sendiri.
“Baik, kau yang paling tinggi” Yixing datang menepuk bahunya, kemudian menarik lenganku dan berbisik ke telingaku, “Aku baru saja melihat Boss dan dia tidak menyletingkan celananya dengan baik.”

Baekhyun melompat ke Chanyeol, Chanyeol meraihnya dari belakang, Jongin berjongkok dan menangkap Baekhyun di lututnya, berjalan berkeliling memegangi Baekhyun sedangkan orang yang dipegang protes berisik sekali. Chanyeol mengikuti mereka dan memukuli pantat Baekhyun dan tertawa dengan sangat senang.

Di bawah lampu backstage, wajah bermake-up semua orang sedikit memerah, sedikit berkeringat. Namun, aku dapat memberitahu bahwa semua orang sangat bahagia; mungkin hanya seperti yang kupikir, hari itu mereka juga berpikir, kami telah menjadi begitu populer. Aku berbalik untuk melihat panggung megah di bawah lampu, dihiasi dengan confetti emas melayang di langit dengan hujan rintik-rintik, aku membayangkan bahwa ini dapat dihitung sebagai akhir dari hidup.

“Ayo ambil foto bersama” saran Suho.
 “Ayo!” selalu Chanyeol lah orang yang akan menimpali pertama, ia menarik Baekhyun, Jongin dan Kyungsoo untuk berdiri di pinggir panggung, Luhan juga menyeret Sehun yang masih memainkan game untuk ikut serta, Tao berlari untuk memanggil Jongdae dan Xiumin. Aku perlahan berjalan menghampiri sembari menyandarkan lenganku di bahu Yixing.

Aku pikir itu adalah jalan yang takkan pernah berakhir, tapi aku menjadi sendirian dengan kurang hati-hati. Tempat di samping bahuku kosong, orang, orang-orang tersebut, yang telah berjalan bersama denganmu, kau tak akan pernah tahu kapan mereka akan pergi dari kehidupanmu.

Jangan pernah menyangkal, momen terbaik di dalam hidupmu yang sedang kau alami.
Kau hanya tidak tahu apa itu.

---- Tamat.

Original Fanfiction  written by 辛辛息息
Indonesian Translation of this chapter by  citrahf

 Do not reupload, do not repost, respect copyrights, and use proper credits if linking this post
Don't forget to leave some comments ^^

Jumat, 30 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 21



“Ia telah lelap tertidur.” Keluar dari ruang monitor, aku berkata pada Mike, “berikan ia waktu sedikit lebih banyak lagi … kupikir ia mungkin capek.” Kataku.
Mike tidak sehidup sebelumnya, menggenggam dokumen-dokumen yang David telah serahkan padanya, ia mengangkat matanya yang mengerikan dan menatap Kris. Apa yang tersembunyi di dalam mata tersebut, aku tak dapat mengungkapkannya.

“Misiku selesai.” Aku tersenyum, menepuk pundak David.
Ia tersenyum, ingin mengatakan sesuatu tapi sirna. Dengan sedikit keraguan, ia mengambil berkas kasus, “pekerjaanmu selesai, bagaimanapun … Kataku, kau mungkin harusnya tahu hal-hal ini.” Ia menyerahkan padaku setumpuk dokumen, “lihatlah sendiri.”

Sejam kemudian, berjalan di koridor kantor pusat yang telah kosong, langkah kakiku tampaknya sangat kesepian.

Tentang kejadian selanjutnya … aku menemukan bahwa aku tak akan mengatakannya. Menyingkirkan cangkang lapis demi lapis untuk mengungkapkan kulit dan daging yang telah dimutilasi dengan sangat parah, kau lihat, setiap orang harus membiarkan beberapa hal akhir untuk mereka sendiri, bukan.

Dalam mungkin kurang dari satu jam tersisa di papan hitung mundur yang juga satu jam setelah kematian Yixing, ia memukulkan sebuah kursi ke jendela, kursinya hancur, tapi tidak ada hal lain yang terjadi.

Senin, 26 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 17


Kris POV

Aku tidak tidur hingga matahari terbit keesokan harinya. Aku benci insomnia seperti aku benci tidak jadi mabuk meskipun telah meneguk bergelas-gelas alkohol.
Aku melihat Yixing dari bawah kelopak mataku yang berat. Aku mengakui bahwa aku dilahirkan sebagai seorang yang pesimis, seperti bagaimana seorang Park Chanyeol yang dilahirkan sebagai seorang optimis.
Semenjak hanya ada dua orang tersisa di tim kita, sangat jelas bahwa kita tidak punya banyak kesempatan untuk menang. Aku masih mengingat bahwa ada satu peraturan yang misterius diantara sepuluh peraturannya, yang menyatakan bahwa dua orang terakhir yang selamat harus berada dalam tim yang sama. Ini berarti jika satu dari kita mati, satu orang lagi pasti akan terdorong ke jalan buntu. Kita bukan orang yang sangat cerdas, aku tersenyum, tapi dia lebih buruk; tidak ada jejak kekejaman dalam dirinya.
Ia membuka matanya dengan setengah mengantuk, ia menatapku  “Kapan kamu bangun ?”
“Barusan.” Kataku
“Apakah karena aku mendapat mimpi buruk ?” ia berpikir keras, kosong.
“Tidak” Kataku, “ Kita mungkin akan segera mati, jadi kita harus merayakannya dengan beberapa anggur.”
“Begitukah?” Dia tersenyum enteng sambil berdiri, “tapi biasanya aku makan yoghurt jika aku merayakan sesuatu.”
 Aku melihatnya aneh, menyeringai, “Jadilah orang dewasa”
Dia melihatku dan menendangku sekali.
Sore ini hujan mengalir; permainan akan selesai dalam waktu 12 jam. Aku tidak yakin jika aku akan dapat hidup untuk melihat hujan menetes lagi.

Minggu, 25 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 16

 Aku berpikir, nasibku dan hubungannya dengan kasus ini, bersamaan dengan laki-laki berambut emas yang pendiam, telah berakhir. Berjalan di sepanjang koridor kantor, aku mengetuk dokumen file secara ringan di dinding samping; Ini sudah berakhir, tapi aku masih merasa bahwa ini belum berakhir.
Tapi, begitulah kehidupan.
Kadang-kadang, takdir antara semua orang benar-benar aneh. Sibuk dengan hal-hal lain dalam kesehariannya. Terkadang, aku masih berpikir tentang anak laki-laki yang hanya bisa kutemui beberapa kali di dalam perjalanan pulang dari pekerjaanku. Aku akan mengingat bagaimana cara dia menuangkan secangkir teh, terkadang, kehangatannya akan muncul dalam sekejap di dalam pikiran saya, dan potongan demi potongan memori akan menumpuk secara terus menerus, menekan di dalam otak. Aku juga akan mengingat bayangan tangannya pada saat menggigil selama masa persidangan.
Akupun menyadari bahwa ini tidaklah normal, dan berpikir bahwa itu akan menjadi sangat penting bagiku untuk menemukan secepatnya pasangan di Bar.
Sesampainya di rumah, aku mulai melihat video masa lalu kelompoknya dan semua informasi. Tentu saja, ia merupakan standar tipe seorang pemimpin; Ia berusaha melalui berbagai macam jenis halangan untuk menjelaskan dan nama grupnya serta lagu di dalam album, terkadang ia juga bisa mengomel layaknya seperti orang tua. Aku mengenali dengan jelas wajah Luhan dan Yixing untuk pertama kalinya. Mereka sering bersama-sama, baik satu dengan yang lainnya atau menyebabkan gangguan pada orang-orang di sekitarnya dan Kris akan akan selalu mengawasi mereka dalam keadaan frustasi dan kegembiraan.

Selasa, 20 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 15



Persidangan sedang dalam tahap percobaan.

Dalam pandanganku, pengalaman ini di luar dari dugaanku yg sesungguhnya dimana Lan sudah memberitahuku banyak hal yang menarik sebelumnya.

“Aku berharap untuk menyerahkan hasil evaluasi tes kejiwaan dari terdakwa, Wu Yi Fan kepada hakim” Dia menyerahkan dokumen kepada salah satu staff.

“Pikirannya dalam keadaan stabil, dia bisa memberikan tanda bahwa dia dapat mempertanggung jawabkan kesaksiannya” diikuti ucapannya, dia menyerahkan dokumen yang lain.

“Evaluasi tes kejiwaan dan kesaksiannya, kedua-duanya sah” Hakim berbicara sedikit sesaat kemudian.

“Menurut keterangan saksi yang diberikan oleh pihak kepolisan, terdakwa tidak hanya menyembunyikan beberapa kebenaran kepada kami, dia juga menggelapkan kebenaran tanpa hak” Dia menggerakkan tubuhnya untuk meneruskan.

“Pada awalnya, vila tersebut tidak seperti tersembunyi dan tersegel seperti kesaksiannya.” Dia menunjuk kepada kaca jendela di atas atap dapur. “Menurut bab 3 baris ketujuh, tersangka menyatakan bahwa salah satu korban, Park Chanyeol, pernah mencoba sekali menggunakan panci untuk menghancurkan jendela tetapi tersangka menghentikannya dengan cepat karena dia takut akan ada beberapa hukuman setelah mencoba menghancurkannya. Namun, pada kenyataannya, kaca jendela tersebut sudah hancur.”

Aku terdiam saat melihat kaca jendela yang pecah sudah menyerupai jendela lagi.

“Hal ini menyebabkan bahwa sisa dari kesaksiannya terlihat tidak logis dan tidak sah. Karena pada kenyataannya atap jendela itu sudah hancur.” Lan berbalik untuk menatap para juri. “Mereka harusnya menyadari bahwa semua jendela di ruang dapur pada kenyataannya terbuat dari kaca biasa dan masuk akal bahwa mereka bisa selamat.”

“Kedua, menurut bab 7 baris kedua belas dari kesaksiannya, tersangka menyatakan bahwa pintu yang paling tinggi di ruang bawah tanah terkunci dan menghalangi pelarian mereka. Padahal, yang sesungguhnya adalah, kunci pada pintu tersebut terbuka, hanya saja selot pintunya terkunci.”

“Apakah ada sidik jari atau jejak dari mereka yang terlibat yang ditemukan di pintu?” Hakim bertanya.

Senin, 29 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 10




Frank’s POV

Kris tertidur di atas meja kantor, bahkan beberapa gelas tehpun tidak mampu menahan rasa kantuknya, untuk seseorang seperti dia yang tidak bisa tidur selama mungkin 3 hari, tidur merupakan hal yang menguntungkan untuknya saat ini.

Sepertinya percakapanku dengan dia sudah mengurangi tekanan yang dialaminya dan sebagai dokter aku sangat senang.

Saat aku berjalan keluar dari ruang kontrol dengan cangkir kosong, aku melihat Mike melambai ke arahku terus menerus. Aku berjalan dengan senyum dan meletakkan cangkir kosong di tangannya, "Apakah tidak nyaman untuk ditonton?"

"Kau begitu menakjubkan!" Matanya bersinar, "Kau perlu tahu bahwa aku belum berada di rumah selama lebih dari 24 jam dan pacarku berpikir aku akan kawin lari denganmu."

"Oh, apakah itu benar?? Aku berkedip padanya, "Sepertinya pacarmu lebih tahu bagaimana menghargai pesonaku."

"Simpan kalimatmu." Dia menjawab acuh tak acuh. "Tapi memang benar bahwa Tuan yang terselamatkan bisa terpikat dengan pesonamu."

"Tentu saja. Ini adalah kewajibanku untuk membuat anak yang sedang  marah kembali bahagia." Kataku dan sambil berjalan menuju kamar mandi, "Jangan lupa untuk membawa dua cangkir teh ini, ini bukan akhir yang sederhana."

Mike mengambil cangkir dengan malas, "Yah, aku seorang bartender. Lanjutkan saja menyemangati  anak kecil yang lucu dan emosional itu, kami akan bertanggung jawab untuk mengamatimu dari luar."


Saat aku baru keluar dari kamar mandi, aku melihat Kris yang masih tertidur, rambut emasnya yang acak-acakan berada di atas meja.

"Pada data jelas yang masuk ke fileku, Bisakah kau tidak mengungkapkan beberapa hal penting yang awalnya hanya diketahui oleh orang dalam." kataku disamping David, kepalanya yang botak dan licin terkadang membuatku untuk tidak bisa menjadi serius saat berbicara.

"Dengar, Frank. Kematian akan menjadi hal yang sangat menakutkan. Tanpa pelatihan yang baik, aku takut hatimu tidak bisa menerimanya." katanya.


Kamis, 25 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 9



Di depan mesin Dance Revolution, Sehun menyipitkan matanya dan berbalik, "Jangan menyerah padaku." Katanya.

Dengan kepala menghadap ke depan, Luhan mengatakan, "Itu mungkin bisa jadi alasan yang bagus. Jika kau menang, tolong nanti beritahu orang-orang bahwa aku menyerah padamu dan bukan karena aku bermain dengan buruk."

"Kau akan menghadapi kematian. Bisakah kau jangan bercanda seperti anak kecil?" Cemberut Sehun.
"Siapa bilang aku akan mati," Luhan mencoba pemanasan, "Meskipun aku hanya beberapa tahun lebih tua dari kau, bukan berarti aku tidak lincah memainkan ini."

"Kau adalah senior yang paling tidak tahu malu yang pernah kutemui." Sehun menggelengkan kepalanya.
"Dan kau, kau adalah si bungsu yang paling sombong yang pernah kutemui." Luhan tersenyum sambil memberikan komentar.

"Apakah kita bisa memulainya?" Luhan berpaling pada Sehun, "Sebaiknya kau melakukan yang terbaik karena belum pernah ada yang menang melawanku dalam permainan ini."

Minggu, 21 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 6


Keesokan sorenya, suara dentingan gelas dan botol dari luar samar-samar membangunkanku. Semua orang mengerutkan alis mereka mungkin karena jetlag dan ketakutan,  tapi tetap saja tidak ada yang mampu melawan kelelahan.

"Apa yang mereka lakukan?" Sehun membalikkan tubuhnya seraya mengggumam.
"Seseorang mungkin akan datang untuk menyelamatkan kita," aku menutup mata lagi dan mengerutkan alisku "Kebenaran terungkap, dan ada polisi diluar."
"Jelas itu adalah hal yang terbaik, namun..." kata Kyungsoo, "Bukankah kau pikir mereka datang agak sedikit terlambat?"
Baekhyun mengucek matanya dan berdiri, menatap pintu dan berkata, "Aku akan pergi keluar dan melihat."
Saat ia berdiri, kuhadapi rasa lelahku, berjuang untuk bangkit dan terhuyung-huyung ke arahnya, "Aku akan ikut denganmu."

Kami kecewa karena tidak ada polisi dimana-mana, melainkan hanya Chanyeol dan Luhan yang sedang menempatkan beberapa gelas kosong di meja. Jongin dan Tao sedang duduk di sofa, masing-masing memegang 3 botol Vodka dan Tequila dan bersuara kepada kami, "Kami terlalu haus dan kami menemukan beberapa botol alkohol, mari kita minum bersama."
Sebuah Scorpion hitam yang tertidur digambar pada meja kaca dalam semalam, dan seketika, kecepatan detak jantungku jadi tidak karuan.
"Siapa yang menggambar ini?" Kata Baekhyun.
"Aku." Kata Chanyeol, "Kalian datang terlambat, dan aku merasa bosan jadi aku menggambar sedikit."
"Apakah kau begitu merindukan Kris?" Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol dan mendorongnya sedikit, mengucek matanya, berbalik dan kembali berjalan ke kamar tidur. Ia mengetuk pintu dan berteriak, “Bangun! Kita akan minum alkohol!”
Aku menatap Scorpion yang digambar di atas kaca dan hatiku berdebar. Samar-samar aku teringat sesuatu, tapi rasanya seperti mimpi.

Sabtu, 20 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 5


"Leader!” seru Chanyeol dengan mulut ternganga, saat ia menuruni  tangga, berlutut dan menyaksikan Junymeon tak berdaya. Jongin berlari mendekati dan mengangkat kepala junmyeon, meletakkannya di pahanya dan berusaha menghentikan darah yg keluar dari dada junmyeon  dengan telapak tangannya, sepotong serpihan kaca tertancap di tulang rusuk kanan Junymeon, dan yang ia bisa lakukan hanyalah terengah-engah tanpa berkata apapun.

"Leader! Leader! kau tidak boleh mati!" tangis Chanyeol saat ia melihat nafas Junmyeon yang makin menipis. "Aku, aku .. mengapa .. Aku yang jadi leader? "
Baekhyun tak dapat mengucapkan apa-apa.
Jongin perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat Baekhyun, kemudian ke arah kami, Chanyeol mendorong baekhyun dengan kuat, air matanya jatuh.  “Apa yang telah kau lakukan!" Seketika, Baekhyun mulai menangis juga dan menggelengkan kepalanya terus menerus.
Yixing berjongkok dan memegang bahu Baekhyun itu, "Ambil nafas sejenak, ceritakan  apa yang terjadi."

"Aku keluar mencari air" Baekhyun memandang Yixing lemah.
"Aku tahu, lalu?" Tanya Yixing.
"Aku berjalan ke sisi sofa dan menemukan seseorang...... memakai topi, berdiri tepat di samping cermin dengan pisau...... dan juga obor...." Kata Baekhyun  tarbata-bata.
 "Dia menatapku, memegang pisau di samping wajahnya dan mendekatiku...." Baekhyun berbicara dan mulai menangis.
"Lalu.... kemudian.... tangannya mendekatiku..... jadi aku mendorongnya.... " katanya, "ia jatuh ke belakang dan cermin itu hancur. "
"Dan kau terus membunuhnya?" Tanya Tao
"Tidak! Bukan begitu! Aku tidak bermaksud! Aku tidak bermaksud! " ia menatap semua orang, panik.
"Dia terjatuh ke lantai dengan suara parau dan mengatakan sesuatu yang  tidak bisa aku mengerti...."
Mata Baekhyun nampak kesulitan untuk mengingat semua yang terjadi dalam gelap , "Kemudian, kemudian, ia merangkak ke arahku dan meraih tanganku ........"

Rabu, 17 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 2



KRIS' POV

Cuaca LA lebih dingin dari yang diperkirakan, tapi selain itu, hari itu tidak ada yang berbeda. Sebelum pendaratan pesawat, kami berjalan menuju area bagasi. Chanyeol, Baekhyun dan Jongin berjalan didepanku dan terdengar olehku suara lengkingan Baekhyun dan tawa berat Chanyeol. Leader Junmyun, D.O, Jongdae dan Minseok berada di bagian tengah ketika Luhan dan Sehun terus menempel berduaan seperti biasanya dan bertindak seperti tak dilihat oleh siapapun. Tao disebelahku menunjukkan ekpresinya yang frustasi karena foto predebutnya yang tersebar di internet kemarin malam. Yixing seperti biasanya terdiam di belakangnya berkutat dengan headphone di telinganya memperhatikan sekitarnya.

Aku memperlambat langkahku padanya, menariknya menghadapku,”Kamu harus berheti mendengarkan musik kalau tidak kau tidak akan medengar orang memanggilmu nanti.” kataku. Dia melihatku kebingungan dan memberikan ekspresi mengerti, ”Ok. No problem.” Namun dia masih belum mau melepaskan headphonenya. Aku berbalik pasrah dan kembali pada Tao dan masalah yang dia pikirkan. Aku tetap pada moodku yang sedang tidak baik karena insomniaku semalam, aku memikirkan Yixing yang ditegur manajer dan diberikan sedikit skorsing dan itu berarti liburanku akan terbuang juga.

“Kenapa kau terlihat kesal dan berekspresi seperti orang tuamu meninggal saja? Atau ada yang kurang jelas dari ucapanku?” Luhan selalu banyak bicara seperti biasa saat kami menunggu koper kami.  Yixing melepaskan headphonenya, ia berkata,”Dia diam-diam sedang turut berduka cita atas hidupmu.”

48 HOURS - CHAPTER 1



Kesan pertama yang terlihat, orang ini tidak terlihat dapat bertindak kasar. Aku mengerti orang-orang segan untuk berbicara dengannya dan menganggap orang ini tidak mengerti apa yang akan mereka bicarakan. Tapi jauh di dalam dirinya, anak ini normal.

“Hello,” Aku menutup pintu ruang kontrol . “Namaku Frank.”  
Aku menatapnya membungkuk sebentar dan duduk, “Kau mau segelas kopi?”
Tak ada respon yang diberikannya pada tawaranku, dia tidak terlihat tertarik dengan pertanyaan yang ada.

“Sebenarnya diriku sendiri tidak menyukai Kopi di Bureau ini, rasanya kurang enak, jadi aku membawakanmu teh...” kataku, “Ini kopi dari kebun yang baik, kau mau mencobanya?” 
Saat aku berbicara, saat itu juga aku memberi aba-aba agar Mike membawakan teh masuk ke dalam ruangan.

“Aku dengar kau sudah lama tidak minum, kau bisa dehidrasi.” Aku menatapnya, “ Yah terkecuali kau mau meninggalkan dunia ini.” Dia mulai terlihat bergerak dan terdapat gerak gerik dari matanya. “Aku bukan polisi, bukan juga temanmu yang mengajakmu mengobrol dan juga bukan seorang nanny yang akan menyemangatimu.” kataku tersenyum. “Aku dokter, orang yang sangat kamu butuhkan untuk saat ini.”

Dia tak menjawab.

“Karena kau tidak gila, mentalmu stabil dan kau tidak mengalami amnesia apapun. Kelakuanmu dan emosimu saat ini sama seperti orang luar sana, kehidupanmu juga sama seperti mereka. Kamu tidak perlu menanggapi pendapat ini tapi daya tahan tubuhmu lebih baik dari orang yang biasanya seumurmu. Meskipun kau telah melakukan percobaan bunuh diri, kau masih tetap hidup sampai sekarang.”

Kris merendahkan kepalanya dan menjatuhkan tatapannya ke lantai.

48 HOURS


PROLOG



Akhir-akhir ini, cuaca di LA cukup cerah dan menyenangkan, meskipun demikian tidak ada penurunan jumlah pasien yg berbeda jauh saat ini. Seperti biasa sekretarisku selalu memprotes tentang betapa penting pekerjaannya namun di saat yang sama ia merasa tidak dihargai. Ia merasa mendapat sangat sedikit istirahat saat harus mengangkat telpon, mengurus pasien yg mengacuhkan, atau melakukan hal-hal di luar batasan-batasan.

Aku adalah seorang psikiater berusia 42 tahun, masih single dan telah memegang lisensi praktik di Amerika selama lebih dari 10 tahun. Pada intinya aku tidak memiliki banyak ketidakpuasan maupun harapan dalam hidupku.

Sejak hari-hari sekolahku, LA tidak pernah begitu damai sebelumnya, namun itu bukan alasanku untuk memilih jurusan psikologi. Bagaimanapun ketika memilih pendidikan S3ku, aku tak bisa menghindar dari ketertarikanku. Aku mengakui bahwa pilihanku mengambil jurusan psikologi kriminal ini sangat berhubungan dengan ketertarikanku yang tinggi tentang hubungan psikologi pada kasus suami-istri. Aku mengerti bahawa hidup tidaklah mudah, 4 tahun yang lalu seorang ayah yang autis berumur 40 tahun menjadi tersangka atas pembunuhan anaknya--yang dibungkus dengan plastik dan dimasukkan dalam peti diletakkan 2 km dari rumahnya. Istrinya yg berkebangsaan Thailand, tidak bisa berbahasa Inggris, keadaan psikologinya menjadi tertekan setelah kejadian tersebut. Aku ingat itu sebagai suatu hal yang tidak terlalu menyenangkan saat natal, mengintrogasi seseorang di dalam sebuah ruangan kontrol di kantor pusat. Pria tersebut duduk bersebrangan denganku, tiba-tiba meneteskan dua tetes setetes air mata yang kemudian dapat memenuhi segelas cangkir kopi.