Tampilkan postingan dengan label Chen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 28 Maret 2015
Kamis, 24 Juli 2014
최고의 행운 (Best Luck) Hangul Lyrics
아무래도 난 니가 좋아
아무런 말도 없이 웃던 나를 안아줘 babe
오늘을 기다렸죠 그대 달콤한
나를 봐요 그대 ye 지켜줄게요 babe
매일 매일 꿈을 꾸죠
그대 손을 잡고 날아가 영원히 언제 까지나
보고 싶은 나의 사랑 운명 이죠 피할수도 없죠
Every day I'm so lucky
숨겨왔던 내 맘을 고백 할래 너를 사랑해
떨리던 내 입술도 그대 설레던
이 마음도 그대 내 사랑이죠 babe
이런게 사랑 인걸 알죠
그대가 있어 행복 하죠 ye 사랑이예요 babe
매일 매일 꿈을 꾸죠
그대 손을 잡고 날아가 영원히 언제 까지나
보고 싶은 나의 사랑 운명이죠 피할수도 없죠
Every day I'm so lucky
숨겨왔던 내 맘을 고백 할래 너를 사랑해
나의 모두를 걸만큼 널 사랑하고
아껴준다고 그대 약속할게요 워
시간 지나 모두 변해도
이 세상이 끝난다 해도 나의 사랑아 아
그대 내게 행운이죠 피할수도 없죠
Every day I'm so lucky 숨겨왔던
내 맘을 고백 할래 너를 사랑해
아무런 말도 없이 웃던 나를 안아줘 babe
오늘을 기다렸죠 그대 달콤한
나를 봐요 그대 ye 지켜줄게요 babe
매일 매일 꿈을 꾸죠
그대 손을 잡고 날아가 영원히 언제 까지나
보고 싶은 나의 사랑 운명 이죠 피할수도 없죠
Every day I'm so lucky
숨겨왔던 내 맘을 고백 할래 너를 사랑해
떨리던 내 입술도 그대 설레던
이 마음도 그대 내 사랑이죠 babe
이런게 사랑 인걸 알죠
그대가 있어 행복 하죠 ye 사랑이예요 babe
매일 매일 꿈을 꾸죠
그대 손을 잡고 날아가 영원히 언제 까지나
보고 싶은 나의 사랑 운명이죠 피할수도 없죠
Every day I'm so lucky
숨겨왔던 내 맘을 고백 할래 너를 사랑해
나의 모두를 걸만큼 널 사랑하고
아껴준다고 그대 약속할게요 워
시간 지나 모두 변해도
이 세상이 끝난다 해도 나의 사랑아 아
그대 내게 행운이죠 피할수도 없죠
Every day I'm so lucky 숨겨왔던
내 맘을 고백 할래 너를 사랑해
Jumat, 04 Juli 2014
Jumat, 27 Juni 2014
Senin, 09 Juni 2014
Senin, 31 Desember 2012
Jumat, 21 Desember 2012
Selasa, 18 Desember 2012
[HQ SCAN] EXO 2013 CALENDARS
click picture to see the original size.
credits are captioned.
DESK CALENDARS
GLOBAL VERSION : IT'S SHOW TIME!

credits are captioned.
DESK CALENDARS
GLOBAL VERSION : IT'S SHOW TIME!

![]() |
| credit: Body n Soul |
![]() |
| credit: Body n Soul |
![]() |
| credit: http://weibo.com/clovergj |
Selasa, 04 Desember 2012
48 HOURS - EPILOG
Kris POV:
Hari itu,
kami ada di backstage setelah menyelesaikan konser kami di Tokyo. Yixing
membungkuk kepada seluruh staff, tak peduli mereka saling kenal atau tidak;
Chanyeol sedang tertawa dengan suaranya yang serak dan keras, mengambil
confetti emas dari rambutnya ke rambutku, Luhan dan Sehun sudah mulai saja
mendiskusikan tentang sebuah game terbaru; Jongin memberi Baekhyun sebuah box
segitiga yang dibungkus rapi, orang yang diberi memeluk Jongin, tersenyum dan
meloncat-loncat setelah membuka box tersebut, memegang sebuah eyeliner.
“Leader, aku sedikit terpeleset ketika aku
menampilkan martial art, mereka tak bisa menyadarinya kan?” ucap Tao khawatir.
“Mereka tak
bisa menyadarinya, jangan khawatir.” Luhan memotong pembicaraan, tidak
memedulikan gamenya. “Tadi ada begitu banyak orang, begitu rusuh, tidak ada
seorangpun yang telah melihatmu”
“Aku sangat
tinggi dan dapat dikenali oke.” Tao menunjuk hidungnya sendiri.
“Baik, kau
yang paling tinggi” Yixing datang menepuk bahunya, kemudian menarik lenganku
dan berbisik ke telingaku, “Aku baru saja melihat Boss dan dia tidak
menyletingkan celananya dengan baik.”
Baekhyun
melompat ke Chanyeol, Chanyeol meraihnya dari belakang, Jongin berjongkok dan menangkap
Baekhyun di lututnya, berjalan berkeliling memegangi Baekhyun sedangkan orang
yang dipegang protes berisik sekali. Chanyeol mengikuti mereka dan memukuli
pantat Baekhyun dan tertawa dengan sangat senang.
Di bawah
lampu backstage, wajah bermake-up semua orang sedikit memerah, sedikit
berkeringat. Namun, aku dapat memberitahu bahwa semua orang sangat bahagia;
mungkin hanya seperti yang kupikir, hari itu mereka juga berpikir, kami telah
menjadi begitu populer. Aku berbalik untuk melihat panggung megah di bawah
lampu, dihiasi dengan confetti emas melayang di langit dengan hujan rintik-rintik, aku membayangkan
bahwa ini dapat dihitung sebagai akhir dari hidup.
“Ayo ambil
foto bersama” saran Suho.
“Ayo!” selalu Chanyeol lah orang yang akan
menimpali pertama, ia menarik Baekhyun, Jongin dan Kyungsoo untuk berdiri di
pinggir panggung, Luhan juga menyeret Sehun yang masih memainkan game untuk
ikut serta, Tao berlari untuk memanggil Jongdae dan Xiumin. Aku perlahan berjalan
menghampiri sembari menyandarkan
lenganku di bahu Yixing.
Aku pikir itu
adalah jalan yang takkan pernah berakhir, tapi aku menjadi sendirian dengan
kurang hati-hati. Tempat di samping bahuku kosong, orang, orang-orang tersebut,
yang telah berjalan bersama denganmu, kau tak akan pernah tahu kapan mereka
akan pergi dari kehidupanmu.
Jangan pernah
menyangkal, momen terbaik di dalam hidupmu yang sedang kau alami.
Kau hanya
tidak tahu apa itu.
---- Tamat.
Do not reupload, do not repost, respect
copyrights, and use proper credits if linking this post
Don't forget to leave
some comments ^^
Jumat, 30 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 21
“Ia telah lelap tertidur.” Keluar dari ruang monitor, aku berkata
pada Mike, “berikan ia waktu sedikit lebih banyak lagi … kupikir ia mungkin
capek.” Kataku.
Mike tidak sehidup sebelumnya, menggenggam dokumen-dokumen yang
David telah serahkan padanya, ia mengangkat matanya yang mengerikan dan menatap
Kris. Apa yang tersembunyi di dalam mata tersebut, aku tak dapat
mengungkapkannya.
“Misiku selesai.” Aku tersenyum, menepuk pundak David.
Ia tersenyum, ingin mengatakan sesuatu tapi sirna. Dengan sedikit
keraguan, ia mengambil berkas kasus, “pekerjaanmu selesai, bagaimanapun …
Kataku, kau mungkin harusnya tahu hal-hal ini.” Ia menyerahkan padaku setumpuk
dokumen, “lihatlah sendiri.”
Sejam kemudian, berjalan di koridor kantor pusat yang telah kosong,
langkah kakiku tampaknya sangat kesepian.
Tentang kejadian selanjutnya … aku menemukan bahwa aku tak akan
mengatakannya. Menyingkirkan cangkang lapis demi lapis untuk mengungkapkan
kulit dan daging yang telah dimutilasi dengan sangat parah, kau lihat, setiap
orang harus membiarkan beberapa hal akhir untuk mereka sendiri, bukan.
Dalam mungkin kurang dari satu jam tersisa di papan hitung mundur
yang juga satu jam setelah kematian Yixing, ia memukulkan sebuah kursi ke
jendela, kursinya hancur, tapi tidak ada hal lain yang terjadi.
Senin, 26 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 17
Kris POV
Aku tidak tidur hingga
matahari terbit keesokan harinya. Aku benci insomnia seperti aku benci tidak jadi
mabuk meskipun telah meneguk bergelas-gelas alkohol.
Aku melihat Yixing dari bawah kelopak
mataku yang berat. Aku mengakui bahwa aku dilahirkan sebagai seorang yang
pesimis, seperti bagaimana seorang Park Chanyeol yang dilahirkan sebagai
seorang optimis.
Semenjak hanya ada dua orang tersisa
di tim kita, sangat jelas bahwa kita tidak punya banyak kesempatan untuk
menang. Aku masih mengingat bahwa ada satu peraturan yang misterius diantara sepuluh
peraturannya, yang menyatakan bahwa dua orang terakhir yang selamat harus
berada dalam tim yang sama. Ini berarti jika satu dari kita mati, satu orang
lagi pasti akan terdorong ke jalan buntu. Kita bukan orang yang sangat cerdas,
aku tersenyum, tapi dia lebih buruk; tidak ada jejak kekejaman dalam dirinya.
Ia membuka matanya dengan
setengah mengantuk, ia menatapku “Kapan kamu bangun ?”
“Barusan.” Kataku
“Apakah karena aku mendapat
mimpi buruk ?” ia berpikir keras, kosong.
“Tidak” Kataku, “ Kita mungkin
akan segera mati, jadi kita harus merayakannya dengan beberapa anggur.”
“Begitukah?” Dia tersenyum
enteng sambil berdiri, “tapi biasanya aku makan yoghurt jika aku merayakan sesuatu.”
Aku melihatnya aneh, menyeringai, “Jadilah
orang dewasa”
Dia melihatku dan menendangku
sekali.
Sore ini hujan mengalir;
permainan akan selesai dalam waktu 12 jam. Aku tidak yakin jika aku akan dapat
hidup untuk melihat hujan menetes lagi.
Minggu, 25 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 16
Aku berpikir, nasibku dan
hubungannya dengan kasus ini, bersamaan dengan laki-laki berambut emas yang
pendiam, telah berakhir. Berjalan di sepanjang koridor kantor, aku mengetuk
dokumen file secara ringan di dinding samping; Ini sudah berakhir, tapi aku
masih merasa bahwa ini belum berakhir.
Tapi, begitulah kehidupan.
Kadang-kadang, takdir antara
semua orang benar-benar aneh. Sibuk dengan hal-hal lain dalam kesehariannya.
Terkadang, aku masih berpikir tentang anak laki-laki yang hanya bisa kutemui
beberapa kali di dalam perjalanan pulang dari pekerjaanku. Aku akan mengingat
bagaimana cara dia menuangkan secangkir teh, terkadang, kehangatannya akan
muncul dalam sekejap di dalam pikiran saya, dan potongan demi potongan memori
akan menumpuk secara terus menerus, menekan di dalam otak. Aku juga akan
mengingat bayangan tangannya pada saat menggigil selama masa persidangan.
Akupun menyadari bahwa ini
tidaklah normal, dan berpikir bahwa itu akan menjadi sangat penting bagiku untuk
menemukan secepatnya pasangan di Bar.
Sesampainya di rumah, aku
mulai melihat video masa lalu kelompoknya dan semua informasi. Tentu saja, ia
merupakan standar tipe seorang pemimpin; Ia berusaha melalui berbagai macam
jenis halangan untuk menjelaskan dan nama grupnya serta lagu di dalam album,
terkadang ia juga bisa mengomel layaknya seperti orang tua. Aku mengenali
dengan jelas wajah Luhan dan Yixing untuk pertama kalinya. Mereka sering bersama-sama,
baik satu dengan yang lainnya atau menyebabkan gangguan pada orang-orang di
sekitarnya dan Kris akan akan selalu mengawasi mereka dalam keadaan frustasi
dan kegembiraan.
Selasa, 20 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 15
Persidangan sedang dalam tahap percobaan.
Dalam pandanganku, pengalaman ini di luar dari dugaanku yg sesungguhnya
dimana Lan sudah memberitahuku banyak hal yang menarik sebelumnya.
“Aku berharap untuk menyerahkan hasil evaluasi tes kejiwaan dari
terdakwa, Wu Yi Fan kepada hakim” Dia menyerahkan dokumen kepada salah satu
staff.
“Pikirannya dalam keadaan stabil, dia bisa memberikan tanda bahwa dia
dapat mempertanggung jawabkan kesaksiannya” diikuti ucapannya, dia menyerahkan
dokumen yang lain.
“Evaluasi tes kejiwaan dan kesaksiannya, kedua-duanya sah” Hakim
berbicara sedikit sesaat kemudian.
“Menurut keterangan saksi yang diberikan oleh pihak kepolisan, terdakwa
tidak hanya menyembunyikan beberapa kebenaran kepada kami, dia juga
menggelapkan kebenaran tanpa hak” Dia menggerakkan tubuhnya untuk meneruskan.
“Pada awalnya, vila tersebut tidak seperti tersembunyi dan tersegel
seperti kesaksiannya.” Dia menunjuk kepada kaca jendela di atas atap dapur.
“Menurut bab 3 baris ketujuh, tersangka menyatakan bahwa salah satu korban,
Park Chanyeol, pernah mencoba sekali menggunakan panci untuk menghancurkan
jendela tetapi tersangka menghentikannya dengan cepat karena dia takut akan ada
beberapa hukuman setelah mencoba menghancurkannya. Namun, pada kenyataannya,
kaca jendela tersebut sudah hancur.”
Aku terdiam saat melihat kaca jendela yang pecah sudah menyerupai
jendela lagi.
“Hal ini menyebabkan bahwa sisa dari kesaksiannya terlihat tidak logis
dan tidak sah. Karena pada kenyataannya atap jendela itu sudah hancur.” Lan
berbalik untuk menatap para juri. “Mereka harusnya menyadari bahwa semua
jendela di ruang dapur pada kenyataannya terbuat dari kaca biasa dan masuk akal
bahwa mereka bisa selamat.”
“Kedua, menurut bab 7 baris kedua belas dari kesaksiannya, tersangka
menyatakan bahwa pintu yang paling tinggi di ruang bawah tanah terkunci dan
menghalangi pelarian mereka. Padahal, yang sesungguhnya adalah, kunci pada
pintu tersebut terbuka, hanya saja selot pintunya terkunci.”
“Apakah ada sidik jari atau jejak dari mereka yang terlibat yang
ditemukan di pintu?” Hakim bertanya.
Senin, 29 Oktober 2012
48 HOURS - CHAPTER 10
Frank’s POV
Kris tertidur di atas meja kantor, bahkan beberapa
gelas tehpun tidak mampu menahan rasa kantuknya, untuk seseorang seperti dia
yang tidak bisa tidur selama mungkin 3 hari, tidur merupakan hal yang
menguntungkan untuknya saat ini.
Sepertinya
percakapanku dengan dia
sudah mengurangi tekanan yang dialaminya dan sebagai dokter aku sangat senang.
Saat aku
berjalan keluar dari ruang kontrol dengan cangkir kosong, aku melihat
Mike melambai ke arahku terus menerus. Aku berjalan dengan senyum dan
meletakkan cangkir kosong di tangannya, "Apakah tidak nyaman untuk ditonton?"
"Kau
begitu menakjubkan!" Matanya bersinar, "Kau perlu tahu
bahwa aku belum
berada di rumah selama lebih dari 24 jam dan pacarku berpikir aku akan kawin
lari denganmu."
"Oh,
apakah itu benar?? Aku berkedip padanya, "Sepertinya pacarmu lebih tahu
bagaimana menghargai pesonaku."
"Simpan
kalimatmu." Dia menjawab acuh tak acuh. "Tapi memang benar bahwa Tuan
yang terselamatkan bisa terpikat dengan pesonamu."
"Tentu
saja. Ini adalah kewajibanku untuk membuat anak yang sedang marah kembali bahagia." Kataku dan sambil berjalan
menuju kamar mandi, "Jangan lupa untuk membawa dua cangkir teh ini, ini bukan akhir yang sederhana."
Mike
mengambil cangkir dengan malas, "Yah, aku seorang bartender.
Lanjutkan saja menyemangati anak kecil yang lucu dan emosional itu, kami akan bertanggung jawab untuk mengamatimu dari luar."
Saat aku baru keluar dari kamar
mandi, aku melihat Kris yang masih tertidur, rambut emasnya yang acak-acakan berada di atas meja.
"Pada data jelas yang masuk ke fileku, Bisakah kau tidak mengungkapkan
beberapa hal penting yang awalnya
hanya diketahui oleh orang dalam." kataku disamping David, kepalanya yang botak dan licin terkadang membuatku untuk tidak bisa menjadi serius
saat berbicara.
"Dengar,
Frank. Kematian akan
menjadi hal yang sangat menakutkan. Tanpa pelatihan yang baik, aku takut
hatimu tidak bisa menerimanya." katanya.
Kamis, 25 Oktober 2012
48 HOURS - CHAPTER 9
Di depan
mesin Dance Revolution, Sehun menyipitkan matanya dan berbalik, "Jangan
menyerah padaku." Katanya.
Dengan kepala menghadap ke depan, Luhan mengatakan,
"Itu mungkin bisa jadi alasan
yang bagus. Jika kau menang, tolong nanti beritahu orang-orang bahwa aku menyerah
padamu dan bukan karena aku bermain dengan buruk."
"Kau akan
menghadapi kematian. Bisakah kau jangan bercanda seperti anak kecil?"
Cemberut Sehun.
"Siapa
bilang aku akan mati," Luhan mencoba pemanasan,
"Meskipun aku hanya beberapa tahun lebih tua dari kau, bukan berarti aku
tidak lincah memainkan ini."
"Kau adalah
senior yang paling tidak tahu malu yang pernah kutemui." Sehun menggelengkan kepalanya.
"Dan kau, kau adalah si bungsu yang paling sombong yang pernah kutemui." Luhan tersenyum
sambil memberikan komentar.
"Apakah
kita bisa memulainya?" Luhan berpaling pada Sehun, "Sebaiknya kau
melakukan yang terbaik karena belum pernah ada yang menang
melawanku dalam
permainan ini."
Minggu, 21 Oktober 2012
48 HOURS - CHAPTER 6
Keesokan sorenya, suara dentingan gelas dan botol
dari luar samar-samar membangunkanku. Semua orang mengerutkan alis mereka
mungkin karena jetlag dan ketakutan, tapi tetap saja tidak ada
yang mampu melawan kelelahan.
"Apa yang mereka lakukan?" Sehun
membalikkan tubuhnya seraya mengggumam.
"Seseorang mungkin akan datang untuk
menyelamatkan kita," aku menutup mata lagi dan mengerutkan alisku "Kebenaran
terungkap, dan ada polisi diluar."
"Jelas itu adalah hal yang terbaik, namun..." kata Kyungsoo, "Bukankah kau pikir mereka datang agak sedikit
terlambat?"
Baekhyun mengucek matanya dan berdiri, menatap
pintu dan berkata, "Aku akan pergi keluar dan melihat."
Saat ia berdiri, kuhadapi rasa lelahku, berjuang
untuk bangkit dan terhuyung-huyung ke arahnya, "Aku akan ikut
denganmu."
Kami kecewa karena tidak ada polisi dimana-mana,
melainkan hanya Chanyeol dan Luhan yang sedang menempatkan beberapa gelas
kosong di meja. Jongin dan Tao sedang duduk di sofa, masing-masing memegang 3 botol Vodka dan Tequila dan bersuara kepada kami, "Kami terlalu
haus dan kami menemukan beberapa botol alkohol, mari kita minum bersama."
Sebuah Scorpion hitam yang tertidur digambar pada
meja kaca dalam semalam, dan seketika, kecepatan detak jantungku jadi tidak
karuan.
"Siapa yang menggambar ini?" Kata
Baekhyun.
"Aku." Kata Chanyeol, "Kalian
datang terlambat, dan aku merasa bosan jadi aku menggambar sedikit."
"Apakah kau begitu merindukan Kris?" Baekhyun
berjalan mendekati Chanyeol dan mendorongnya sedikit, mengucek matanya,
berbalik dan kembali berjalan ke kamar tidur. Ia mengetuk pintu dan berteriak, “Bangun!
Kita akan minum alkohol!”
Aku menatap Scorpion yang digambar di atas kaca
dan hatiku berdebar. Samar-samar aku teringat sesuatu, tapi rasanya seperti
mimpi.
Sabtu, 20 Oktober 2012
48 HOURS - CHAPTER 5
"Leader!” seru Chanyeol dengan mulut
ternganga, saat ia menuruni tangga, berlutut dan menyaksikan Junymeon tak
berdaya. Jongin berlari mendekati dan mengangkat kepala junmyeon,
meletakkannya di pahanya dan berusaha menghentikan darah yg keluar dari dada junmyeon
dengan telapak tangannya, sepotong serpihan kaca tertancap di tulang
rusuk kanan Junymeon, dan yang ia bisa lakukan hanyalah terengah-engah tanpa
berkata apapun.
"Leader! Leader! kau tidak boleh mati!"
tangis Chanyeol saat ia melihat nafas Junmyeon yang makin menipis. "Aku,
aku .. mengapa .. Aku yang jadi leader? "
Baekhyun tak dapat mengucapkan apa-apa.
Jongin perlahan mengangkat kepalanya untuk
melihat Baekhyun, kemudian ke arah kami, Chanyeol mendorong baekhyun dengan
kuat, air matanya jatuh. “Apa yang telah kau lakukan!"
Seketika, Baekhyun
mulai menangis juga dan menggelengkan kepalanya terus menerus.
Yixing berjongkok dan memegang bahu Baekhyun itu,
"Ambil nafas sejenak, ceritakan apa yang terjadi."
"Aku keluar mencari air" Baekhyun
memandang Yixing lemah.
"Aku tahu, lalu?" Tanya Yixing.
"Aku berjalan ke sisi sofa dan menemukan
seseorang...... memakai topi, berdiri tepat di samping cermin dengan pisau...... dan juga obor...." Kata Baekhyun tarbata-bata.
"Dia menatapku, memegang pisau di
samping wajahnya dan mendekatiku...." Baekhyun berbicara dan mulai
menangis.
"Lalu.... kemudian.... tangannya
mendekatiku..... jadi aku mendorongnya.... " katanya, "ia
jatuh ke belakang dan cermin itu hancur. "
"Dan kau terus membunuhnya?"
Tanya Tao
"Tidak! Bukan begitu! Aku tidak bermaksud!
Aku tidak bermaksud! " ia menatap semua orang, panik.
"Dia terjatuh ke lantai dengan suara parau
dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku mengerti...."
Mata Baekhyun nampak kesulitan untuk mengingat
semua yang terjadi dalam gelap , "Kemudian, kemudian, ia merangkak ke
arahku dan meraih tanganku ........"
Rabu, 17 Oktober 2012
48 HOURS - CHAPTER 2
KRIS' POV
Cuaca LA lebih dingin dari yang diperkirakan, tapi selain itu, hari itu tidak ada yang berbeda.
Sebelum pendaratan pesawat, kami berjalan menuju area bagasi. Chanyeol,
Baekhyun dan Jongin berjalan didepanku dan terdengar olehku suara lengkingan Baekhyun
dan tawa berat Chanyeol. Leader Junmyun, D.O, Jongdae dan Minseok berada di
bagian tengah ketika Luhan dan Sehun terus menempel berduaan seperti biasanya
dan bertindak seperti tak dilihat oleh siapapun. Tao disebelahku menunjukkan
ekpresinya yang frustasi karena foto predebutnya yang tersebar di internet kemarin
malam. Yixing seperti biasanya terdiam di belakangnya berkutat dengan headphone
di telinganya memperhatikan sekitarnya.
Aku
memperlambat langkahku padanya, menariknya menghadapku,”Kamu harus berheti
mendengarkan musik kalau tidak kau tidak akan medengar orang memanggilmu
nanti.” kataku. Dia melihatku kebingungan dan memberikan ekspresi mengerti, ”Ok.
No problem.” Namun dia masih belum mau melepaskan headphonenya. Aku berbalik
pasrah dan kembali pada Tao dan masalah yang dia pikirkan. Aku tetap pada moodku
yang sedang tidak baik karena insomniaku semalam, aku memikirkan Yixing yang ditegur
manajer dan diberikan sedikit skorsing dan itu berarti liburanku akan terbuang
juga.
“Kenapa
kau terlihat kesal dan berekspresi seperti orang tuamu meninggal saja? Atau ada yang kurang jelas dari ucapanku?” Luhan selalu banyak
bicara seperti biasa saat kami menunggu koper kami. Yixing melepaskan headphonenya, ia berkata,”Dia diam-diam sedang turut berduka cita atas
hidupmu.”
48 HOURS - CHAPTER 1
Kesan
pertama yang terlihat, orang ini tidak terlihat dapat bertindak kasar. Aku mengerti
orang-orang segan untuk berbicara dengannya
dan menganggap orang ini tidak mengerti apa yang akan mereka bicarakan. Tapi
jauh di dalam dirinya, anak ini normal.
“Hello,”
Aku menutup pintu ruang kontrol . “Namaku Frank.”
Aku menatapnya membungkuk sebentar dan duduk, “Kau mau segelas kopi?”
Tak ada respon yang diberikannya pada tawaranku, dia tidak terlihat tertarik dengan pertanyaan yang ada.
Aku menatapnya membungkuk sebentar dan duduk, “Kau mau segelas kopi?”
Tak ada respon yang diberikannya pada tawaranku, dia tidak terlihat tertarik dengan pertanyaan yang ada.
“Sebenarnya
diriku sendiri tidak menyukai Kopi di Bureau ini, rasanya kurang enak, jadi aku
membawakanmu teh...” kataku, “Ini kopi dari kebun yang baik, kau mau
mencobanya?”
Saat aku berbicara, saat itu juga aku memberi aba-aba agar Mike membawakan teh masuk ke dalam ruangan.
Saat aku berbicara, saat itu juga aku memberi aba-aba agar Mike membawakan teh masuk ke dalam ruangan.
“Aku dengar
kau sudah lama tidak minum, kau bisa dehidrasi.” Aku menatapnya, “ Yah
terkecuali kau mau meninggalkan dunia ini.” Dia mulai terlihat bergerak dan
terdapat gerak gerik dari matanya. “Aku bukan polisi, bukan juga temanmu yang
mengajakmu mengobrol dan juga bukan seorang nanny yang akan menyemangatimu.” kataku
tersenyum. “Aku dokter, orang yang sangat kamu butuhkan untuk saat ini.”
Dia tak
menjawab.
“Karena kau
tidak gila, mentalmu stabil dan kau tidak mengalami amnesia apapun. Kelakuanmu dan emosimu saat ini sama seperti
orang luar sana, kehidupanmu juga sama seperti mereka. Kamu tidak perlu
menanggapi pendapat ini tapi daya tahan tubuhmu lebih baik dari orang yang
biasanya seumurmu. Meskipun kau telah melakukan percobaan bunuh diri,
kau masih tetap hidup sampai sekarang.”
Kris
merendahkan kepalanya dan menjatuhkan tatapannya ke lantai.
48 HOURS
PROLOG
Akhir-akhir ini, cuaca di LA
cukup cerah dan menyenangkan, meskipun demikian tidak ada penurunan jumlah
pasien yg berbeda jauh saat ini. Seperti biasa sekretarisku selalu memprotes
tentang betapa penting pekerjaannya namun di saat yang sama ia merasa tidak
dihargai. Ia merasa mendapat sangat sedikit istirahat saat harus mengangkat
telpon, mengurus pasien yg mengacuhkan, atau melakukan hal-hal di luar
batasan-batasan.
Aku adalah seorang psikiater berusia
42 tahun, masih single dan telah memegang lisensi praktik di Amerika selama
lebih dari 10 tahun. Pada intinya aku tidak memiliki banyak ketidakpuasan
maupun harapan dalam hidupku.
Sejak hari-hari sekolahku, LA
tidak pernah begitu damai sebelumnya, namun itu bukan alasanku untuk memilih
jurusan psikologi. Bagaimanapun ketika memilih pendidikan S3ku, aku tak bisa
menghindar dari ketertarikanku. Aku mengakui bahwa pilihanku mengambil jurusan
psikologi kriminal ini sangat berhubungan dengan ketertarikanku yang tinggi
tentang hubungan psikologi pada kasus suami-istri. Aku mengerti bahawa hidup
tidaklah mudah, 4 tahun yang lalu seorang ayah yang autis berumur 40 tahun
menjadi tersangka atas pembunuhan anaknya--yang dibungkus dengan plastik dan
dimasukkan dalam peti diletakkan 2 km dari rumahnya. Istrinya yg berkebangsaan
Thailand, tidak bisa berbahasa Inggris, keadaan psikologinya menjadi tertekan
setelah kejadian tersebut. Aku ingat itu sebagai suatu hal yang tidak terlalu
menyenangkan saat natal, mengintrogasi seseorang di dalam sebuah ruangan
kontrol di kantor pusat. Pria tersebut duduk bersebrangan denganku, tiba-tiba
meneteskan dua tetes setetes air mata yang kemudian dapat memenuhi segelas
cangkir kopi.
Langganan:
Postingan (Atom)

























