Tampilkan postingan dengan label Lay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lay. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 28 Maret 2015
Sabtu, 13 September 2014
Selasa, 08 Juli 2014
140708 Lay Weibo Update
我是在exo队伍里的中国人 可以说中文 还有和我并肩作战的2个中国兄弟 和8位韩国兄弟 我们一直在韩国中国世界的舞台上为了喜欢支持我们的人歌唱表演 我相信音乐没有国界 希望成为 中韩友谊沟通的桥梁 不让任何一个喜欢我们的人失望 我们正在努力着 加油!
Senin, 09 Juni 2014
Senin, 21 Januari 2013
48 HOURS - FINAL PARSE
Final Parse (Perpektif
Pengarang)
Hampir 60.000 kata, 48 hours,
setiap orang punya cerita Hamlet sendiri di dalam hati mereka, seperti apa
milikmu?
Ya, semua yang telah kau baca
itu benar, tak ada ilusi, tak ada malfungsi mental, tak ada ketidaksesuaian yang
disengaja. Pesta kejutan itu benar, kedua orang yang dipaksa untuk bersembunyi
juga benar, mengenai apakah mereka masih hidup, atau apakah trampolinnya telah
sengaja ditempatkan di tempat yang salah, tanyakan pada almarhum Mr. Zheng.
Dalam sudut pandang sang
dalang, ini adalah akhir yang sempurna, secara sukses menggunakan pesta untuk
kabur dari hukum, keadlian, dan untuk membuat seseorang mengambil alih
hukumannya, tambahan kepada fakta bahwa seluruh 12 member telah ditangkap.
Bidang tertinggi dari
pembunuhan adalah membunuh dengan mempunyai kambing hitam atau membunuh yang
hidup dengan orang mati; intinya, orang pertama yang mati tak akan mempunyai
cara untuk mengekspos rahasia apapun.
Tepat pada awal menjatuhkan
domino adalah pesta yang hangat dan manis, namun dengan perubahan tujuan yang
tiba-tiba di pertengahan, dan tanpa pengungkitan antar member, hasil akhirnya mungkin
tidak akan jadi sejauh ini.
Tapi tunggu, jangan lupa,
hanya kau dan aku yang akan tahu informasi ini; di dalam cerita, Kris telah
dibiarkan dalam kegelapan samma sekali; ia akan tetap seperti itu selama ia
hidup, selalu berpikir bahwa itu semua hanya lelucon.
Senin, 31 Desember 2012
Jumat, 21 Desember 2012
Selasa, 18 Desember 2012
[HQ SCAN] EXO 2013 CALENDARS
click picture to see the original size.
credits are captioned.
DESK CALENDARS
GLOBAL VERSION : IT'S SHOW TIME!

credits are captioned.
DESK CALENDARS
GLOBAL VERSION : IT'S SHOW TIME!

![]() |
| credit: Body n Soul |
![]() |
| credit: Body n Soul |
![]() |
| credit: http://weibo.com/clovergj |
Selasa, 04 Desember 2012
48 HOURS - EPILOG
Kris POV:
Hari itu,
kami ada di backstage setelah menyelesaikan konser kami di Tokyo. Yixing
membungkuk kepada seluruh staff, tak peduli mereka saling kenal atau tidak;
Chanyeol sedang tertawa dengan suaranya yang serak dan keras, mengambil
confetti emas dari rambutnya ke rambutku, Luhan dan Sehun sudah mulai saja
mendiskusikan tentang sebuah game terbaru; Jongin memberi Baekhyun sebuah box
segitiga yang dibungkus rapi, orang yang diberi memeluk Jongin, tersenyum dan
meloncat-loncat setelah membuka box tersebut, memegang sebuah eyeliner.
“Leader, aku sedikit terpeleset ketika aku
menampilkan martial art, mereka tak bisa menyadarinya kan?” ucap Tao khawatir.
“Mereka tak
bisa menyadarinya, jangan khawatir.” Luhan memotong pembicaraan, tidak
memedulikan gamenya. “Tadi ada begitu banyak orang, begitu rusuh, tidak ada
seorangpun yang telah melihatmu”
“Aku sangat
tinggi dan dapat dikenali oke.” Tao menunjuk hidungnya sendiri.
“Baik, kau
yang paling tinggi” Yixing datang menepuk bahunya, kemudian menarik lenganku
dan berbisik ke telingaku, “Aku baru saja melihat Boss dan dia tidak
menyletingkan celananya dengan baik.”
Baekhyun
melompat ke Chanyeol, Chanyeol meraihnya dari belakang, Jongin berjongkok dan menangkap
Baekhyun di lututnya, berjalan berkeliling memegangi Baekhyun sedangkan orang
yang dipegang protes berisik sekali. Chanyeol mengikuti mereka dan memukuli
pantat Baekhyun dan tertawa dengan sangat senang.
Di bawah
lampu backstage, wajah bermake-up semua orang sedikit memerah, sedikit
berkeringat. Namun, aku dapat memberitahu bahwa semua orang sangat bahagia;
mungkin hanya seperti yang kupikir, hari itu mereka juga berpikir, kami telah
menjadi begitu populer. Aku berbalik untuk melihat panggung megah di bawah
lampu, dihiasi dengan confetti emas melayang di langit dengan hujan rintik-rintik, aku membayangkan
bahwa ini dapat dihitung sebagai akhir dari hidup.
“Ayo ambil
foto bersama” saran Suho.
“Ayo!” selalu Chanyeol lah orang yang akan
menimpali pertama, ia menarik Baekhyun, Jongin dan Kyungsoo untuk berdiri di
pinggir panggung, Luhan juga menyeret Sehun yang masih memainkan game untuk
ikut serta, Tao berlari untuk memanggil Jongdae dan Xiumin. Aku perlahan berjalan
menghampiri sembari menyandarkan
lenganku di bahu Yixing.
Aku pikir itu
adalah jalan yang takkan pernah berakhir, tapi aku menjadi sendirian dengan
kurang hati-hati. Tempat di samping bahuku kosong, orang, orang-orang tersebut,
yang telah berjalan bersama denganmu, kau tak akan pernah tahu kapan mereka
akan pergi dari kehidupanmu.
Jangan pernah
menyangkal, momen terbaik di dalam hidupmu yang sedang kau alami.
Kau hanya
tidak tahu apa itu.
---- Tamat.
Do not reupload, do not repost, respect
copyrights, and use proper credits if linking this post
Don't forget to leave
some comments ^^
Jumat, 30 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 21
“Ia telah lelap tertidur.” Keluar dari ruang monitor, aku berkata
pada Mike, “berikan ia waktu sedikit lebih banyak lagi … kupikir ia mungkin
capek.” Kataku.
Mike tidak sehidup sebelumnya, menggenggam dokumen-dokumen yang
David telah serahkan padanya, ia mengangkat matanya yang mengerikan dan menatap
Kris. Apa yang tersembunyi di dalam mata tersebut, aku tak dapat
mengungkapkannya.
“Misiku selesai.” Aku tersenyum, menepuk pundak David.
Ia tersenyum, ingin mengatakan sesuatu tapi sirna. Dengan sedikit
keraguan, ia mengambil berkas kasus, “pekerjaanmu selesai, bagaimanapun …
Kataku, kau mungkin harusnya tahu hal-hal ini.” Ia menyerahkan padaku setumpuk
dokumen, “lihatlah sendiri.”
Sejam kemudian, berjalan di koridor kantor pusat yang telah kosong,
langkah kakiku tampaknya sangat kesepian.
Tentang kejadian selanjutnya … aku menemukan bahwa aku tak akan
mengatakannya. Menyingkirkan cangkang lapis demi lapis untuk mengungkapkan
kulit dan daging yang telah dimutilasi dengan sangat parah, kau lihat, setiap
orang harus membiarkan beberapa hal akhir untuk mereka sendiri, bukan.
Dalam mungkin kurang dari satu jam tersisa di papan hitung mundur
yang juga satu jam setelah kematian Yixing, ia memukulkan sebuah kursi ke
jendela, kursinya hancur, tapi tidak ada hal lain yang terjadi.
Kamis, 29 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 20
Ketika Yixing terbangun, jam telah menunjukkan pukul 7 malam.
Ia mengucek matanya sebelum menatap papan hitung mundur di tembok
menunjukkan sisa waktu 3 jam dan dengan lesu berkata, “Sudah selarut ini.”
Berbaring membungkuk miring di sofa, Aku menatap matanya.
“Dimana yang lainnya?” Ia berkata.
“Mereka semua mati.” Ucapku.
Ia berkedip dan menengadah, menatap tanpa pikiran.
Ia tidak menanyakanku tentang bagaimana Luhan mati, mungkin tidak
perlu juga mengetahui jawabannya.
Berdiri, ia pelan-pelan menaiki tangga. Ia membuka pintu menuju
kamar tidur kedua di lantai dua, dan melihat keadaan yang kacau balau itu.
Ia tersenyum diam dan menatap keluar jendela.
Hujan turun diluar jendela, suara air hujan terus terdengar seiring
menetesnya ia ke dedaunan dan bagian
bawah jendela. Aku tak dapat memastikan apa yang ada di atmosfer pada malam itu
yang menggantikan kata-kata kami.
Hal-hal yang tak pernah kuberi tahu, bahasa-bahasa yang ku tak
yakini.
“Halo, namaku Zhang Yixing.” Ia tersenyum malu sambil menggaruk
kupingnya, “Kau adalah orang Cina pertama yang kukenal.”
“Wu Yi Fan.” Aku mengulurkan tanganku, memberinya sebuah tos.
Rabu, 28 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 19
Terpaku pada kejadian itu, Aku dan
Yixing secara bersangkutan mengembalikan tatapan Luhan terhadap kami. Dia
berubah menjadi pancaran yang terang dan senyum yang cerah, seperti biasa, “Semoga
beruntung.” Ia melambai dengan lembut dan bersuara.
Ada orang yang terikat untuk menjadi
orang yang telah mengalahkan semua lawan mereka, namun memilih untuk kalah
kepada dirinya sendiri. Hal yang lebih membebani daripada kematian adalah untuk
hidup dengan penuh derita, ia dari dulu selalu lebih pintar dan menentukan
daripada aku, selalu membuat pilihan yang benar.
Aku telah lupa seberapa lama waktu
berlalu, Yixing terbaring tidur di sofa.
Luhan membuka pintu untuk berjalan keluar dari kamar tidur di lantai dua,
berdiri di kaki tangga.
“Bisakah aku meminjam tali plastik
yang ada di lantai?” Ia berucap dengan senyuman.
Melihat ke lantai, aku tahu bahwa jam
hitung mundur telah menunjukkan angka 4. Seiring aku mengosongkan minyak dari
pemantik tetes demi tetes, aku membuat sebuah keputusan yang sangat bodoh dalam
hidupku yang juga menjadi alasan aku telah menyalibkan diriku seumur hidup.
Aku dengan lembut menggelengkan
kepalaku. Seolah-olah lega, ia melambaikan tangan dan menyembulkan senyuman, “Kemudian
lupakanlah... omong-omong, aku ingin meminta suatu hal padamu.”
“Bicaralah.” Kataku, tetap menjaga
pandanganku ke lantai.
“Ini adalah alamat rumahku dan nomor
teleponku,” ia melipat secarik kertas di tangannya,
“Sudah hampir dua tahun aku tidak
berbicara kepada orangtuaku...” ia berbicara dengan santainya, “Aku punya
beberapa deposito, tidak banyak, tolong aku untuk memberikannya pada
mereka........ juga,” ia meregangkan kepalanya ke arah Yixing berada, “Tolong
aku mengucapkan selamat tinggal pada si bodoh itu.”
Selasa, 27 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 18
Aku berjalan keluar kamar
tidur, melamun; ruang tamu telah hancur sangat parah. Aku tak tahu bagian mana
dalam adegan aksi ini yang mulai kutonton, aku hanya tahu hidung Yixing sudah
memar dan wajahnya bengkak, pakaiannya telah robek-robek dan ia sedang bergelut
dengan Kim Jongin dari sofa menuju tangga dan terguling dari tangga menuju
lantai. Ia mengerling padaku beberapa detik ketika aku keluar, dan sesegera
mungkin mendapat tinjuan dari Kim Jongin seiring dengan ia menyeretnya ke
lantai, menendanginya. Yixing terlihat seperti seekor anjing tak berdaya karena
ditendang berlebihan, namun mengejutkannya ia menyeret dan menggulingkan Kim
Jongin di lantai dengan tangannya mengunci leher Jongin.
Seperti yang kukatakan, ia
selalu seperti ini, ketika kau pikir ia akan menyerah, ia akan terus berusaha
sampai ke inci tersebut, memberi tahumu bahwa ia masih hidup.
Aku bergegas menuju dapur,
sekelebat terlihat lemari yang terbuka, aku mengambil wajan penggorengan yang dulu
Chanyeol pakai, melangkah ke dua orang yang sedang bertarung melawan satu sama
lain di pesta dansa. Aku tersandung sebuah tali plastik tepat sebelum aku
mendengar Yixing menyerukan, “hati-hati!”, cih, tali plastik yang bodoh namun
familiar ini.
Aku berbalik, tiba-tiba
kepalaku seperti dibom, aku merasa alkohol dan darah terlucuti dari kepalaku,
meresap ke seluruh leher dan bagian atas badanku. Ketika aku membuka mataku
lagi, aku melihat Luhan berdiri dihadapanku memegang sebuah pemantik, ia
menatap padaku, seperti seorang setan linglung.
Kuping kiriku sangat syok
ketika Yixing berteriak, “Luhan!!”
Memoriku menutupi kebisingan
lainnya, aku berpikir Luhan adalah orang yang sama karena ia benar-benar
menoleh dan menatap Yixing. “Yixing?” ia bilang.
Momen berikutnya, Yixing
menjatuhkan Luhan ke lantai, pemantiknya terjatuh sekurang-kurangnya 2 meter
jauhnya. Kim Jongin menyeret Yixing dengan mengunci lehernya dari belakang, ia
secara acak mengambil sebuah botol pecah dan meletakannya di dekat arteri
karotid Yixing.
“Yixing!” Luhan
secara naluriah meraung, “Jangan sentuh ia! Ia tidak bisa terluka!” ia
mengatakannya sembari setengah berlutut mencoba untuk bangkit dari lantai ingin
mencari pertolongan.
Senin, 26 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 17
Kris POV
Aku tidak tidur hingga
matahari terbit keesokan harinya. Aku benci insomnia seperti aku benci tidak jadi
mabuk meskipun telah meneguk bergelas-gelas alkohol.
Aku melihat Yixing dari bawah kelopak
mataku yang berat. Aku mengakui bahwa aku dilahirkan sebagai seorang yang
pesimis, seperti bagaimana seorang Park Chanyeol yang dilahirkan sebagai
seorang optimis.
Semenjak hanya ada dua orang tersisa
di tim kita, sangat jelas bahwa kita tidak punya banyak kesempatan untuk
menang. Aku masih mengingat bahwa ada satu peraturan yang misterius diantara sepuluh
peraturannya, yang menyatakan bahwa dua orang terakhir yang selamat harus
berada dalam tim yang sama. Ini berarti jika satu dari kita mati, satu orang
lagi pasti akan terdorong ke jalan buntu. Kita bukan orang yang sangat cerdas,
aku tersenyum, tapi dia lebih buruk; tidak ada jejak kekejaman dalam dirinya.
Ia membuka matanya dengan
setengah mengantuk, ia menatapku “Kapan kamu bangun ?”
“Barusan.” Kataku
“Apakah karena aku mendapat
mimpi buruk ?” ia berpikir keras, kosong.
“Tidak” Kataku, “ Kita mungkin
akan segera mati, jadi kita harus merayakannya dengan beberapa anggur.”
“Begitukah?” Dia tersenyum
enteng sambil berdiri, “tapi biasanya aku makan yoghurt jika aku merayakan sesuatu.”
Aku melihatnya aneh, menyeringai, “Jadilah
orang dewasa”
Dia melihatku dan menendangku
sekali.
Sore ini hujan mengalir;
permainan akan selesai dalam waktu 12 jam. Aku tidak yakin jika aku akan dapat
hidup untuk melihat hujan menetes lagi.
Minggu, 25 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 16
Aku berpikir, nasibku dan
hubungannya dengan kasus ini, bersamaan dengan laki-laki berambut emas yang
pendiam, telah berakhir. Berjalan di sepanjang koridor kantor, aku mengetuk
dokumen file secara ringan di dinding samping; Ini sudah berakhir, tapi aku
masih merasa bahwa ini belum berakhir.
Tapi, begitulah kehidupan.
Kadang-kadang, takdir antara
semua orang benar-benar aneh. Sibuk dengan hal-hal lain dalam kesehariannya.
Terkadang, aku masih berpikir tentang anak laki-laki yang hanya bisa kutemui
beberapa kali di dalam perjalanan pulang dari pekerjaanku. Aku akan mengingat
bagaimana cara dia menuangkan secangkir teh, terkadang, kehangatannya akan
muncul dalam sekejap di dalam pikiran saya, dan potongan demi potongan memori
akan menumpuk secara terus menerus, menekan di dalam otak. Aku juga akan
mengingat bayangan tangannya pada saat menggigil selama masa persidangan.
Akupun menyadari bahwa ini
tidaklah normal, dan berpikir bahwa itu akan menjadi sangat penting bagiku untuk
menemukan secepatnya pasangan di Bar.
Sesampainya di rumah, aku
mulai melihat video masa lalu kelompoknya dan semua informasi. Tentu saja, ia
merupakan standar tipe seorang pemimpin; Ia berusaha melalui berbagai macam
jenis halangan untuk menjelaskan dan nama grupnya serta lagu di dalam album,
terkadang ia juga bisa mengomel layaknya seperti orang tua. Aku mengenali
dengan jelas wajah Luhan dan Yixing untuk pertama kalinya. Mereka sering bersama-sama,
baik satu dengan yang lainnya atau menyebabkan gangguan pada orang-orang di
sekitarnya dan Kris akan akan selalu mengawasi mereka dalam keadaan frustasi
dan kegembiraan.
Rabu, 14 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 14
Beberapa waktu setelah itu, aku kembali ke kehidupan normalku, jumlah pasienku yang menggunung telah membuatku kurang memperhatikan diriku sendiri, pertemuanku dengan remaja muda berdarah China-Kanada
berangsur-angsur terlupakan sama
seperti semua pasienku yang lain. Hanya kadang-kadang ketika aku membaca surat kabar, laporan media, dan spekulasi pada kasus yang menyerebak luas ke seluruh negara ini akan mengingatkanku aku pernah mempunyai kontak yang
dekat pada inti permasalahannya.
Faktanya, aku tidak
sedikit pun
khawatir tentang keadaannya, yang pada akhirnya tidak hanya dikaitkan dengan kepercayaanku dan pemahaman terhadap Konrad. Sejauh yang aku tahu, ketika seseorang
ditempatkan ke dalam sebuah lingkungan mandatori yang juga merupakan ancaman berwujud terhadap hidupnya, semua aksi dapat
diklasifikasikan di bawah lingkup pertahanan diri.
Mungkin orang sepertiku yang tak tahu banyak tentang hukum hanya bisa duduk di dewan juri, memberi suara untuk ketidakbersalahannya. Namun aku sedikit goyah dan gelisah
dengan kata-kata Mike, jika dia berbohong padaku lagi, membantunya akan menjadi sepenuhnya mustahil.
"Aku punya waktu, maksudku untuk
persidangan." Kataku.
"Oh begitukah?" Janji dengan pasien-pasienmu sebenarnya telah
dijadwalkan sampai bulan depan, ya kan? Sepertinya kau telah memiliki ketertarikan yang serius terhadap anak
ini, sampai ke batas
dimana ia sekarang telah menjadi pasien VIP.” kata David sambil tersenyum.
48 HOURS - CHAPTER 13
Keluar dari ruang kontrol, aku merasa perlu untuk menghirup udara segar. Remaja emosional ini telah membalikkan
badannya memunggungi kami, kepalanya menghadap dinding, memungkinkan dirinya sendiri sebuah tempat yang
meyakinkan dan aman untuk menitikkan air mata.
Jika seseorang sedih, air mata harus
dibiarkan mengalir. Ini, mungkin sesuatu yang tidak diajarkan padanya dalam perusahaan Korea tersebut.
Dia memperlakukanku seperti seorang pendeta,
menceritakan rahasia dan mengharapkan aku untuk menebus jiwanya. Aku tidak bisa, pada
kenyataannya, aku akan
menjual jiwanya. Satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mengkhianatinya, pada akhirnya adalah
dirinya sendiri.
Malam itu, dia yang pasti kelelahan, tidak memiliki
apapun untuk dikatakan. Aku berjalan sendiri ke teras untuk menghela nafas dan ketika aku kembali, seluruh kantor
polisi telah meledak menjadi sebuah kekacauan, seorang wanita Korea mengenakan
pakaian kantor dengan ekspresi bingung sedang berbicara dengan David,
melambaikan ponsel di tangannya. David memberi isyarat padanya untuk menenangkan diri
berulang kali, menginstruksikan Mike untuk menemukan penerjemah pada satu sisi sementara di sisi lain ia mencari sebuah pena dan kertas dalam
persiapan untuk melakukan beberapa rekaman pernyataan.
Ini jelas bukan urusanku, Kris di
kejauhan masih tergeletak di ruang monitoring, tidak dapat menyaksikan kepanikan yang terjadi di luar. Baginya, cerita
telah berakhir dari hari
sebelumnya, tidak mengetahui penyebab dan hasil, hanya mengalami proses,
mungkin bagiannya tak
lagi penting. Manusia tidak memakai polariisator ketika mengamati sudutnya, rasa sakit,
kebahagiaan, sukacita dan depresi semua hanya muncul sebagai debu di mata Tuhan.
Minggu, 04 November 2012
48 HOURS - CHAPTER 12
Baekhyun meringkuk di lantai kamar
mandi. Sebuah tali plastik tipis putih melilit lehernya dengan erat, salah satu tangannya masih menggenggam ke tubuh Tao, yang berdiri di
sampingnya, erat.
Baekhyun terbaring di lantai; napasnya berhenti.
Chanyeol berjongkok, menatap tali
plastik putih itu, dan
tampak seolah-olah ia mencoba untuk fokus pada pandangannya dan indera pendengarannya.
"Apa yang terjadi?" Jongin menatap Tao dingin. Tao, wajahnya pucat, menghindari
tatapannya; Luhan
bersandar ke dinding,
terdiam.
"Luhan ..." Chanyeol
mengambil tali plastik putih panjang itu, beralih menuju Luhan, "Apakah ini gulungan tali yang kau ambil dari
brankas?"
Melirik Chanyeol, Luhan ingin membantu
dia bangkit dari lantai, tetapi ia didorong menjauh,
"Kenapa kau tidak membicarakan dengan kami sebelumnya?!!" Teriak Chanyeol, sesenggukan dalam tangis.
Tangan yang terdorong pergi berayun di udara, Luhan menurunkan
matanya, dan menarik tangannya kembali.
"Apa ini?" Jongin berdiri, berjalan ragu menuju cermin . " Mandarin?" Dia menoleh
ke belakang perlahan-lahan, melihat ke arah kami berempat.
"Kau hanya membunuh kami yang member Korea dan bukan Cina ...
Apakah ini rahasia antara kalian orang-orang Cina!?" Dia melotot ke arah kami dengan tatapan
mengancam, mendorong sekuat tenaga ke dada Tao. Tao tidak membalasnya.
"Kau salah paham." Aku
menahan tangannya yang ia gunakan untuk mendorong Tao.
"Benar ... Bagaimana aku bisa
lupa?! Kau, dan
dia,”
Jongin menunjuk ke Yixing," Kalian berdua ada di sebelah ruangan ini, bagaimana mungkin kalian
berdua tiba ke sini lebih telat daripada kami?! "
"Aku mengatakan kepadanya untuk tidak mendekat." Tao menajamkan matanya ke arah Jongin secara provokatif.
Detik berikutnya, ingatan yang ku punya hanyalah Jongin dan Tao bergulat satu sama lain
dalam perkelahian.
Jongin yang meratap dan berteriak adalah
pemandangan yang jarang, "Tanpa izinku, bagaimana bisa kau membunuh
Baekhyun!"
48 HOURS - CHAPTER 11
Kris’ POV
Makan malam kami sangat sederhana; ini memang adalah
cara
melangsingkan diri dengan hasil yang sangat baik. Setelah makan sandwich dalam satu
menit, aku meneguk sebotol besar air.
"Aku seperti merasakan masakan Hunan." Yixing terjun kembali ke dalam khayalan megahnya.
"Tidak dapat memakan apa yang kau ingin makan
sebelum kau mati,
adalah salah satu hal yang paling
menyedihkan dalam hidup," kataku , "Bahkan tahanan yang menghadapi hukuman mati bisa mendapatkan makanan yang enak sebelum mereka
dieksekusi."
"Kalau saja aku tahu semua akan jadi begini, aku tidak akan
menguruskan badanku dulu." Ucapnya datar.
"Kalau saja aku tahu," Aku mencolek lesung pipinya, "Kau tidak akan
menjadi selebriti sekarang."
Dia menatapku, "Jika aku bisa mengulang waktu lagi, aku masih akan memilih untuk jadi seorang
selebriti." Dia tersenyum padaku, "Sudah bertahun-tahun, dan bukankah kau mengenalku
cukup baik?"
Berjalan kembali ke ruang tamu, tidak ada jiwa
yang dapat ditemukan, Yixing dan aku melihat kubus Rubiks di tangga dan brankas yang terbuka. Kami tidak tahu metode apa yang akan Luhan piilih untuk membunuh kami.
Kami tidak tahu di mana Baekhyun berada. Aku memeriksa gambaran Scorpio yang sangat indah itu, dan aku tidak pernah tahu sebenarnya ia punya kemampuan khusus seperti ini. Apa yang perlu kau ketahui adalah bahwa aku orang yang mengagumi orang dengan kemampuan estetika yang tinggi; mereka harus cermat memperhatikan segala sesuatu di sekitar mereka; ketika kau sudah melupakan sesuatu, dan dia masih
mampu mengingat.
Langganan:
Postingan (Atom)























