Tampilkan postingan dengan label Lay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lay. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

140708 Lay Weibo Update

我是在exo队伍里的中国人 可以说中文 还有和我并肩作战的2个中国兄弟 和8位韩国兄弟 我们一直在韩国中国世界的舞台上为了喜欢支持我们的人歌唱表演 我相信音乐没有国界 希望成为 中韩友谊沟通的桥梁 不让任何一个喜欢我们的人失望 我们正在努力着 加油!

Senin, 21 Januari 2013

48 HOURS - FINAL PARSE



Final Parse (Perpektif Pengarang)
Hampir 60.000 kata, 48 hours, setiap orang punya cerita Hamlet sendiri di dalam hati mereka, seperti apa milikmu?

Ya, semua yang telah kau baca itu benar, tak ada ilusi, tak ada malfungsi mental, tak ada ketidaksesuaian yang disengaja. Pesta kejutan itu benar, kedua orang yang dipaksa untuk bersembunyi juga benar, mengenai apakah mereka masih hidup, atau apakah trampolinnya telah sengaja ditempatkan di tempat yang salah, tanyakan pada almarhum Mr. Zheng.

Dalam sudut pandang sang dalang, ini adalah akhir yang sempurna, secara sukses menggunakan pesta untuk kabur dari hukum, keadlian, dan untuk membuat seseorang mengambil alih hukumannya, tambahan kepada fakta bahwa seluruh 12 member telah ditangkap.

Bidang tertinggi dari pembunuhan adalah membunuh dengan mempunyai kambing hitam atau membunuh yang hidup dengan orang mati; intinya, orang pertama yang mati tak akan mempunyai cara untuk mengekspos rahasia apapun.

Tepat pada awal menjatuhkan domino adalah pesta yang hangat dan manis, namun dengan perubahan tujuan yang tiba-tiba di pertengahan, dan tanpa pengungkitan antar member, hasil akhirnya mungkin tidak akan jadi sejauh ini.
Tapi tunggu, jangan lupa, hanya kau dan aku yang akan tahu informasi ini; di dalam cerita, Kris telah dibiarkan dalam kegelapan samma sekali; ia akan tetap seperti itu selama ia hidup, selalu berpikir bahwa itu semua hanya lelucon.

Selasa, 18 Desember 2012

[HQ SCAN] EXO 2013 CALENDARS

click picture to see the original size.
credits are captioned.

DESK CALENDARS

GLOBAL VERSION : IT'S SHOW TIME!





credit: Body n Soul
credit: Body n Soul

credit: http://weibo.com/clovergj

Selasa, 04 Desember 2012

48 HOURS - EPILOG



Kris POV:

Hari itu, kami ada di backstage setelah menyelesaikan konser kami di Tokyo. Yixing membungkuk kepada seluruh staff, tak peduli mereka saling kenal atau tidak; Chanyeol sedang tertawa dengan suaranya yang serak dan keras, mengambil confetti emas dari rambutnya ke rambutku, Luhan dan Sehun sudah mulai saja mendiskusikan tentang sebuah game terbaru; Jongin memberi Baekhyun sebuah box segitiga yang dibungkus rapi, orang yang diberi memeluk Jongin, tersenyum dan meloncat-loncat setelah membuka box tersebut, memegang sebuah eyeliner.

 “Leader, aku sedikit terpeleset ketika aku menampilkan martial art, mereka tak bisa menyadarinya kan?” ucap Tao khawatir.
“Mereka tak bisa menyadarinya, jangan khawatir.” Luhan memotong pembicaraan, tidak memedulikan gamenya. “Tadi ada begitu banyak orang, begitu rusuh, tidak ada seorangpun yang telah melihatmu”
“Aku sangat tinggi dan dapat dikenali oke.” Tao menunjuk hidungnya sendiri.
“Baik, kau yang paling tinggi” Yixing datang menepuk bahunya, kemudian menarik lenganku dan berbisik ke telingaku, “Aku baru saja melihat Boss dan dia tidak menyletingkan celananya dengan baik.”

Baekhyun melompat ke Chanyeol, Chanyeol meraihnya dari belakang, Jongin berjongkok dan menangkap Baekhyun di lututnya, berjalan berkeliling memegangi Baekhyun sedangkan orang yang dipegang protes berisik sekali. Chanyeol mengikuti mereka dan memukuli pantat Baekhyun dan tertawa dengan sangat senang.

Di bawah lampu backstage, wajah bermake-up semua orang sedikit memerah, sedikit berkeringat. Namun, aku dapat memberitahu bahwa semua orang sangat bahagia; mungkin hanya seperti yang kupikir, hari itu mereka juga berpikir, kami telah menjadi begitu populer. Aku berbalik untuk melihat panggung megah di bawah lampu, dihiasi dengan confetti emas melayang di langit dengan hujan rintik-rintik, aku membayangkan bahwa ini dapat dihitung sebagai akhir dari hidup.

“Ayo ambil foto bersama” saran Suho.
 “Ayo!” selalu Chanyeol lah orang yang akan menimpali pertama, ia menarik Baekhyun, Jongin dan Kyungsoo untuk berdiri di pinggir panggung, Luhan juga menyeret Sehun yang masih memainkan game untuk ikut serta, Tao berlari untuk memanggil Jongdae dan Xiumin. Aku perlahan berjalan menghampiri sembari menyandarkan lenganku di bahu Yixing.

Aku pikir itu adalah jalan yang takkan pernah berakhir, tapi aku menjadi sendirian dengan kurang hati-hati. Tempat di samping bahuku kosong, orang, orang-orang tersebut, yang telah berjalan bersama denganmu, kau tak akan pernah tahu kapan mereka akan pergi dari kehidupanmu.

Jangan pernah menyangkal, momen terbaik di dalam hidupmu yang sedang kau alami.
Kau hanya tidak tahu apa itu.

---- Tamat.

Original Fanfiction  written by 辛辛息息
Indonesian Translation of this chapter by  citrahf

 Do not reupload, do not repost, respect copyrights, and use proper credits if linking this post
Don't forget to leave some comments ^^

Jumat, 30 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 21



“Ia telah lelap tertidur.” Keluar dari ruang monitor, aku berkata pada Mike, “berikan ia waktu sedikit lebih banyak lagi … kupikir ia mungkin capek.” Kataku.
Mike tidak sehidup sebelumnya, menggenggam dokumen-dokumen yang David telah serahkan padanya, ia mengangkat matanya yang mengerikan dan menatap Kris. Apa yang tersembunyi di dalam mata tersebut, aku tak dapat mengungkapkannya.

“Misiku selesai.” Aku tersenyum, menepuk pundak David.
Ia tersenyum, ingin mengatakan sesuatu tapi sirna. Dengan sedikit keraguan, ia mengambil berkas kasus, “pekerjaanmu selesai, bagaimanapun … Kataku, kau mungkin harusnya tahu hal-hal ini.” Ia menyerahkan padaku setumpuk dokumen, “lihatlah sendiri.”

Sejam kemudian, berjalan di koridor kantor pusat yang telah kosong, langkah kakiku tampaknya sangat kesepian.

Tentang kejadian selanjutnya … aku menemukan bahwa aku tak akan mengatakannya. Menyingkirkan cangkang lapis demi lapis untuk mengungkapkan kulit dan daging yang telah dimutilasi dengan sangat parah, kau lihat, setiap orang harus membiarkan beberapa hal akhir untuk mereka sendiri, bukan.

Dalam mungkin kurang dari satu jam tersisa di papan hitung mundur yang juga satu jam setelah kematian Yixing, ia memukulkan sebuah kursi ke jendela, kursinya hancur, tapi tidak ada hal lain yang terjadi.

Kamis, 29 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 20

Ketika Yixing terbangun, jam telah menunjukkan pukul 7 malam.

Ia mengucek matanya sebelum menatap papan hitung mundur di tembok menunjukkan sisa waktu 3 jam dan dengan lesu berkata, “Sudah selarut ini.”

Berbaring membungkuk miring di sofa, Aku menatap matanya.

“Dimana yang lainnya?” Ia berkata.
“Mereka semua mati.” Ucapku.
Ia berkedip dan menengadah, menatap tanpa pikiran.

Ia tidak menanyakanku tentang bagaimana Luhan mati, mungkin tidak perlu juga mengetahui jawabannya.
Berdiri, ia pelan-pelan menaiki tangga. Ia membuka pintu menuju kamar tidur kedua di lantai dua, dan melihat keadaan yang kacau balau itu.

Ia tersenyum diam dan menatap keluar jendela.

Hujan turun diluar jendela, suara air hujan terus terdengar seiring menetesnya ia ke dedaunan dan  bagian bawah jendela. Aku tak dapat memastikan apa yang ada di atmosfer pada malam itu yang menggantikan kata-kata kami.

Hal-hal yang tak pernah kuberi tahu, bahasa-bahasa yang ku tak yakini.

“Halo, namaku Zhang Yixing.” Ia tersenyum malu sambil menggaruk kupingnya, “Kau adalah orang Cina pertama yang kukenal.”
“Wu Yi Fan.” Aku mengulurkan tanganku, memberinya sebuah tos.

Rabu, 28 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 19

Terpaku pada kejadian itu, Aku dan Yixing secara bersangkutan mengembalikan tatapan Luhan terhadap kami. Dia berubah menjadi pancaran yang terang dan senyum yang cerah, seperti biasa, “Semoga beruntung.” Ia melambai dengan lembut dan  bersuara.


Ada orang yang terikat untuk menjadi orang yang telah mengalahkan semua lawan mereka, namun memilih untuk kalah kepada dirinya sendiri. Hal yang lebih membebani daripada kematian adalah untuk hidup dengan penuh derita, ia dari dulu selalu lebih pintar dan menentukan daripada aku, selalu membuat pilihan yang benar.
Aku telah lupa seberapa lama waktu berlalu, Yixing  terbaring tidur di sofa. Luhan membuka pintu untuk berjalan keluar dari kamar tidur di lantai dua, berdiri di kaki tangga.
“Bisakah aku meminjam tali plastik yang ada di lantai?” Ia berucap dengan senyuman.
Melihat ke lantai, aku tahu bahwa jam hitung mundur telah menunjukkan angka 4. Seiring aku mengosongkan minyak dari pemantik tetes demi tetes, aku membuat sebuah keputusan yang sangat bodoh dalam hidupku yang juga menjadi alasan aku telah menyalibkan diriku seumur hidup.
Aku dengan lembut menggelengkan kepalaku. Seolah-olah lega, ia melambaikan tangan dan menyembulkan senyuman, “Kemudian lupakanlah... omong-omong, aku ingin meminta suatu hal padamu.”
“Bicaralah.” Kataku, tetap menjaga pandanganku ke lantai.
“Ini adalah alamat rumahku dan nomor teleponku,” ia melipat secarik kertas di tangannya,
“Sudah hampir dua tahun aku tidak berbicara kepada orangtuaku...” ia berbicara dengan santainya, “Aku punya beberapa deposito, tidak banyak, tolong aku untuk memberikannya pada mereka........ juga,” ia meregangkan kepalanya ke arah Yixing berada, “Tolong aku mengucapkan selamat tinggal pada si bodoh itu.”

Selasa, 27 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 18



Aku berjalan keluar kamar tidur, melamun; ruang tamu telah hancur sangat parah. Aku tak tahu bagian mana dalam adegan aksi ini yang mulai kutonton, aku hanya tahu hidung Yixing sudah memar dan wajahnya bengkak, pakaiannya telah robek-robek dan ia sedang bergelut dengan Kim Jongin dari sofa menuju tangga dan terguling dari tangga menuju lantai. Ia mengerling padaku beberapa detik ketika aku keluar, dan sesegera mungkin mendapat tinjuan dari Kim Jongin seiring dengan ia menyeretnya ke lantai, menendanginya. Yixing terlihat seperti seekor anjing tak berdaya karena ditendang berlebihan, namun mengejutkannya ia menyeret dan menggulingkan Kim Jongin di lantai dengan tangannya mengunci leher Jongin.   

Seperti yang kukatakan, ia selalu seperti ini, ketika kau pikir ia akan menyerah, ia akan terus berusaha sampai ke inci tersebut, memberi tahumu bahwa ia masih hidup.

Aku bergegas menuju dapur, sekelebat terlihat lemari yang terbuka, aku mengambil wajan penggorengan yang dulu Chanyeol pakai, melangkah ke dua orang yang sedang bertarung melawan satu sama lain di pesta dansa. Aku tersandung sebuah tali plastik tepat sebelum aku mendengar Yixing menyerukan, “hati-hati!”, cih, tali plastik yang bodoh namun familiar ini.

Aku berbalik, tiba-tiba kepalaku seperti dibom, aku merasa alkohol dan darah terlucuti dari kepalaku, meresap ke seluruh leher dan bagian atas badanku. Ketika aku membuka mataku lagi, aku melihat Luhan berdiri dihadapanku memegang sebuah pemantik, ia menatap padaku, seperti seorang setan linglung.

Kuping kiriku sangat syok ketika Yixing berteriak, “Luhan!!”

Memoriku menutupi kebisingan lainnya, aku berpikir Luhan adalah orang yang sama karena ia benar-benar menoleh dan menatap Yixing. “Yixing?” ia bilang.

Momen berikutnya, Yixing menjatuhkan Luhan ke lantai, pemantiknya terjatuh sekurang-kurangnya 2 meter jauhnya. Kim Jongin menyeret Yixing dengan mengunci lehernya dari belakang, ia secara acak mengambil sebuah botol pecah dan meletakannya di dekat arteri karotid Yixing.

“Yixing!” Luhan secara naluriah meraung, “Jangan sentuh ia! Ia tidak bisa terluka!” ia mengatakannya sembari setengah berlutut mencoba untuk bangkit dari lantai ingin mencari pertolongan.


Senin, 26 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 17


Kris POV

Aku tidak tidur hingga matahari terbit keesokan harinya. Aku benci insomnia seperti aku benci tidak jadi mabuk meskipun telah meneguk bergelas-gelas alkohol.
Aku melihat Yixing dari bawah kelopak mataku yang berat. Aku mengakui bahwa aku dilahirkan sebagai seorang yang pesimis, seperti bagaimana seorang Park Chanyeol yang dilahirkan sebagai seorang optimis.
Semenjak hanya ada dua orang tersisa di tim kita, sangat jelas bahwa kita tidak punya banyak kesempatan untuk menang. Aku masih mengingat bahwa ada satu peraturan yang misterius diantara sepuluh peraturannya, yang menyatakan bahwa dua orang terakhir yang selamat harus berada dalam tim yang sama. Ini berarti jika satu dari kita mati, satu orang lagi pasti akan terdorong ke jalan buntu. Kita bukan orang yang sangat cerdas, aku tersenyum, tapi dia lebih buruk; tidak ada jejak kekejaman dalam dirinya.
Ia membuka matanya dengan setengah mengantuk, ia menatapku  “Kapan kamu bangun ?”
“Barusan.” Kataku
“Apakah karena aku mendapat mimpi buruk ?” ia berpikir keras, kosong.
“Tidak” Kataku, “ Kita mungkin akan segera mati, jadi kita harus merayakannya dengan beberapa anggur.”
“Begitukah?” Dia tersenyum enteng sambil berdiri, “tapi biasanya aku makan yoghurt jika aku merayakan sesuatu.”
 Aku melihatnya aneh, menyeringai, “Jadilah orang dewasa”
Dia melihatku dan menendangku sekali.
Sore ini hujan mengalir; permainan akan selesai dalam waktu 12 jam. Aku tidak yakin jika aku akan dapat hidup untuk melihat hujan menetes lagi.

Minggu, 25 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 16

 Aku berpikir, nasibku dan hubungannya dengan kasus ini, bersamaan dengan laki-laki berambut emas yang pendiam, telah berakhir. Berjalan di sepanjang koridor kantor, aku mengetuk dokumen file secara ringan di dinding samping; Ini sudah berakhir, tapi aku masih merasa bahwa ini belum berakhir.
Tapi, begitulah kehidupan.
Kadang-kadang, takdir antara semua orang benar-benar aneh. Sibuk dengan hal-hal lain dalam kesehariannya. Terkadang, aku masih berpikir tentang anak laki-laki yang hanya bisa kutemui beberapa kali di dalam perjalanan pulang dari pekerjaanku. Aku akan mengingat bagaimana cara dia menuangkan secangkir teh, terkadang, kehangatannya akan muncul dalam sekejap di dalam pikiran saya, dan potongan demi potongan memori akan menumpuk secara terus menerus, menekan di dalam otak. Aku juga akan mengingat bayangan tangannya pada saat menggigil selama masa persidangan.
Akupun menyadari bahwa ini tidaklah normal, dan berpikir bahwa itu akan menjadi sangat penting bagiku untuk menemukan secepatnya pasangan di Bar.
Sesampainya di rumah, aku mulai melihat video masa lalu kelompoknya dan semua informasi. Tentu saja, ia merupakan standar tipe seorang pemimpin; Ia berusaha melalui berbagai macam jenis halangan untuk menjelaskan dan nama grupnya serta lagu di dalam album, terkadang ia juga bisa mengomel layaknya seperti orang tua. Aku mengenali dengan jelas wajah Luhan dan Yixing untuk pertama kalinya. Mereka sering bersama-sama, baik satu dengan yang lainnya atau menyebabkan gangguan pada orang-orang di sekitarnya dan Kris akan akan selalu mengawasi mereka dalam keadaan frustasi dan kegembiraan.

Rabu, 14 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 14



Beberapa waktu setelah itu, aku kembali ke kehidupan normalku, jumlah pasienku yang menggunung telah membuatku kurang memperhatikan diriku sendiri, pertemuanku dengan remaja muda berdarah China-Kanada berangsur-angsur terlupakan sama seperti semua pasienku yang lain. Hanya kadang-kadang ketika aku membaca surat kabar, laporan media, dan spekulasi pada kasus yang menyerebak luas ke seluruh negara ini akan mengingatkanku aku pernah mempunyai kontak yang dekat pada inti permasalahannya.

Faktanya, aku tidak sedikit pun khawatir tentang keadaannya, yang pada akhirnya tidak hanya dikaitkan dengan kepercayaanku dan pemahaman terhadap Konrad. Sejauh yang aku tahu, ketika seseorang ditempatkan ke dalam sebuah lingkungan mandatori yang juga merupakan ancaman berwujud terhadap hidupnya, semua aksi dapat diklasifikasikan di bawah lingkup pertahanan diri.

Mungkin orang sepertiku yang tak tahu banyak  tentang hukum hanya bisa duduk di dewan juri, memberi  suara untuk ketidakbersalahannya. Namun aku sedikit goyah dan gelisah dengan kata-kata Mike, jika dia berbohong padaku lagi, membantunya akan menjadi sepenuhnya mustahil.

"Aku punya waktu, maksudku untuk persidangan." Kataku.

"Oh begitukah?" Janji dengan pasien-pasienmu sebenarnya telah dijadwalkan sampai bulan depan, ya kan? Sepertinya kau telah memiliki ketertarikan yang serius terhadap anak ini, sampai ke batas dimana ia sekarang telah menjadi pasien VIP.” kata David sambil tersenyum.

48 HOURS - CHAPTER 13



Keluar dari ruang kontrol, aku merasa perlu untuk menghirup udara segar. Remaja emosional ini telah membalikkan badannya memunggungi kami, kepalanya menghadap dinding, memungkinkan dirinya sendiri sebuah tempat yang meyakinkan dan aman untuk menitikkan air mata.

Jika seseorang sedih, air mata harus dibiarkan mengalir. Ini, mungkin sesuatu yang tidak diajarkan padanya dalam perusahaan Korea tersebut.

Dia memperlakukanku seperti seorang pendeta, menceritakan rahasia dan mengharapkan aku untuk menebus jiwanya. Aku tidak bisa, pada kenyataannya, aku akan menjual jiwanya. Satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mengkhianatinya, pada akhirnya adalah dirinya sendiri.

Malam itu, dia yang pasti kelelahan, tidak memiliki apapun untuk dikatakan. Aku berjalan sendiri ke teras untuk menghela nafas  dan ketika aku kembali, seluruh kantor polisi telah meledak menjadi sebuah kekacauan, seorang wanita Korea mengenakan pakaian kantor dengan ekspresi bingung sedang berbicara dengan David, melambaikan ponsel di tangannya. David memberi isyarat padanya untuk menenangkan diri berulang kali, menginstruksikan Mike untuk menemukan penerjemah pada satu sisi sementara di sisi lain ia mencari sebuah pena dan kertas dalam persiapan untuk melakukan beberapa rekaman pernyataan.

Ini jelas bukan urusanku, Kris di kejauhan masih tergeletak di ruang monitoring, tidak dapat menyaksikan kepanikan yang terjadi di luar. Baginya, cerita telah berakhir dari hari sebelumnya, tidak mengetahui penyebab dan hasil, hanya mengalami proses, mungkin bagiannya tak lagi penting. Manusia tidak memakai polariisator ketika mengamati sudutnya, rasa sakit, kebahagiaan, sukacita dan depresi semua hanya muncul sebagai debu di mata Tuhan.

Minggu, 04 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 12



Baekhyun meringkuk di lantai kamar mandi. Sebuah tali plastik tipis putih melilit lehernya dengan erat, salah satu tangannya masih menggenggam ke tubuh Tao, yang berdiri di sampingnya, erat.
Baekhyun terbaring di lantai; napasnya berhenti.
Chanyeol berjongkok, menatap tali plastik putih itu, dan tampak seolah-olah ia mencoba untuk fokus pada pandangannya dan indera pendengarannya.
"Apa yang terjadi?" Jongin menatap Tao dingin. Tao, wajahnya pucat, menghindari tatapannya; Luhan bersandar ke dinding, terdiam.
"Luhan ..." Chanyeol mengambil tali plastik putih panjang itu, beralih menuju Luhan, "Apakah ini gulungan tali yang kau ambil dari brankas?"
Melirik Chanyeol, Luhan ingin membantu dia bangkit dari lantai, tetapi ia didorong menjauh, "Kenapa kau tidak membicarakan dengan kami sebelumnya?!!" Teriak Chanyeol, sesenggukan dalam tangis.
Tangan yang terdorong pergi berayun di udara, Luhan menurunkan matanya, dan menarik tangannya kembali.
"Apa ini?" Jongin berdiri, berjalan ragu menuju cermin . " Mandarin?" Dia menoleh ke belakang perlahan-lahan, melihat ke arah kami berempat.
"Kau hanya membunuh kami  yang member Korea dan bukan Cina ... Apakah ini rahasia antara kalian orang-orang Cina!?" Dia melotot ke arah kami dengan tatapan mengancam, mendorong sekuat tenaga ke  dada Tao. Tao tidak membalasnya.
"Kau salah paham." Aku menahan tangannya yang ia gunakan untuk mendorong Tao.
"Benar ... Bagaimana aku bisa lupa?! Kau, dan dia,”  Jongin menunjuk ke Yixing," Kalian berdua ada di sebelah ruangan ini, bagaimana mungkin kalian berdua tiba ke sini lebih telat daripada kami?! "
"Aku mengatakan kepadanya untuk tidak mendekat." Tao menajamkan matanya ke arah Jongin secara provokatif.
Detik berikutnya, ingatan yang ku punya hanyalah Jongin dan Tao bergulat satu sama lain dalam perkelahian.

Jongin yang meratap dan berteriak adalah pemandangan yang jarang, "Tanpa izinku, bagaimana bisa kau membunuh Baekhyun!"

48 HOURS - CHAPTER 11



Kris’ POV

Makan malam kami sangat sederhana; ini memang adalah cara melangsingkan diri dengan hasil yang sangat baik. Setelah makan sandwich dalam satu menit, aku meneguk  sebotol besar air.
"Aku seperti merasakan masakan Hunan." Yixing terjun kembali ke dalam khayalan megahnya.
"Tidak dapat memakan apa yang kau ingin makan sebelum kau mati, adalah salah satu hal yang paling menyedihkan dalam hidup," kataku , "Bahkan tahanan yang menghadapi hukuman mati bisa mendapatkan makanan yang enak sebelum mereka dieksekusi."
"Kalau saja aku tahu semua akan jadi begini, aku tidak akan menguruskan badanku dulu." Ucapnya datar.
"Kalau saja aku tahu," Aku mencolek lesung pipinya, "Kau tidak akan menjadi selebriti sekarang."
Dia menatapku, "Jika aku bisa mengulang waktu lagi, aku masih akan memilih untuk jadi seorang selebriti." Dia tersenyum padaku, "Sudah bertahun-tahun, dan bukankah kau mengenalku cukup baik?"
Berjalan kembali ke ruang tamu, tidak ada jiwa yang dapat ditemukan, Yixing dan aku melihat kubus Rubiks  di tangga dan brankas yang terbuka. Kami tidak tahu metode apa yang akan Luhan piilih untuk membunuh kami.
Kami tidak tahu di mana Baekhyun berada. Aku memeriksa gambaran Scorpio yang sangat indah itu, dan aku tidak pernah tahu sebenarnya ia punya kemampuan khusus seperti ini. Apa yang perlu kau ketahui adalah bahwa aku orang yang mengagumi orang dengan kemampuan estetika yang  tinggi; mereka harus cermat memperhatikan segala sesuatu di sekitar mereka; ketika kau sudah melupakan sesuatu, dan dia masih mampu mengingat.