Tampilkan postingan dengan label Junmyeon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Junmyeon. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2013

48 HOURS - FINAL PARSE



Final Parse (Perpektif Pengarang)
Hampir 60.000 kata, 48 hours, setiap orang punya cerita Hamlet sendiri di dalam hati mereka, seperti apa milikmu?

Ya, semua yang telah kau baca itu benar, tak ada ilusi, tak ada malfungsi mental, tak ada ketidaksesuaian yang disengaja. Pesta kejutan itu benar, kedua orang yang dipaksa untuk bersembunyi juga benar, mengenai apakah mereka masih hidup, atau apakah trampolinnya telah sengaja ditempatkan di tempat yang salah, tanyakan pada almarhum Mr. Zheng.

Dalam sudut pandang sang dalang, ini adalah akhir yang sempurna, secara sukses menggunakan pesta untuk kabur dari hukum, keadlian, dan untuk membuat seseorang mengambil alih hukumannya, tambahan kepada fakta bahwa seluruh 12 member telah ditangkap.

Bidang tertinggi dari pembunuhan adalah membunuh dengan mempunyai kambing hitam atau membunuh yang hidup dengan orang mati; intinya, orang pertama yang mati tak akan mempunyai cara untuk mengekspos rahasia apapun.

Tepat pada awal menjatuhkan domino adalah pesta yang hangat dan manis, namun dengan perubahan tujuan yang tiba-tiba di pertengahan, dan tanpa pengungkitan antar member, hasil akhirnya mungkin tidak akan jadi sejauh ini.
Tapi tunggu, jangan lupa, hanya kau dan aku yang akan tahu informasi ini; di dalam cerita, Kris telah dibiarkan dalam kegelapan samma sekali; ia akan tetap seperti itu selama ia hidup, selalu berpikir bahwa itu semua hanya lelucon.

Selasa, 18 Desember 2012

[HQ SCAN] EXO 2013 CALENDARS

click picture to see the original size.
credits are captioned.

DESK CALENDARS

GLOBAL VERSION : IT'S SHOW TIME!





credit: Body n Soul
credit: Body n Soul

credit: http://weibo.com/clovergj

Selasa, 04 Desember 2012

48 HOURS - EPILOG



Kris POV:

Hari itu, kami ada di backstage setelah menyelesaikan konser kami di Tokyo. Yixing membungkuk kepada seluruh staff, tak peduli mereka saling kenal atau tidak; Chanyeol sedang tertawa dengan suaranya yang serak dan keras, mengambil confetti emas dari rambutnya ke rambutku, Luhan dan Sehun sudah mulai saja mendiskusikan tentang sebuah game terbaru; Jongin memberi Baekhyun sebuah box segitiga yang dibungkus rapi, orang yang diberi memeluk Jongin, tersenyum dan meloncat-loncat setelah membuka box tersebut, memegang sebuah eyeliner.

 “Leader, aku sedikit terpeleset ketika aku menampilkan martial art, mereka tak bisa menyadarinya kan?” ucap Tao khawatir.
“Mereka tak bisa menyadarinya, jangan khawatir.” Luhan memotong pembicaraan, tidak memedulikan gamenya. “Tadi ada begitu banyak orang, begitu rusuh, tidak ada seorangpun yang telah melihatmu”
“Aku sangat tinggi dan dapat dikenali oke.” Tao menunjuk hidungnya sendiri.
“Baik, kau yang paling tinggi” Yixing datang menepuk bahunya, kemudian menarik lenganku dan berbisik ke telingaku, “Aku baru saja melihat Boss dan dia tidak menyletingkan celananya dengan baik.”

Baekhyun melompat ke Chanyeol, Chanyeol meraihnya dari belakang, Jongin berjongkok dan menangkap Baekhyun di lututnya, berjalan berkeliling memegangi Baekhyun sedangkan orang yang dipegang protes berisik sekali. Chanyeol mengikuti mereka dan memukuli pantat Baekhyun dan tertawa dengan sangat senang.

Di bawah lampu backstage, wajah bermake-up semua orang sedikit memerah, sedikit berkeringat. Namun, aku dapat memberitahu bahwa semua orang sangat bahagia; mungkin hanya seperti yang kupikir, hari itu mereka juga berpikir, kami telah menjadi begitu populer. Aku berbalik untuk melihat panggung megah di bawah lampu, dihiasi dengan confetti emas melayang di langit dengan hujan rintik-rintik, aku membayangkan bahwa ini dapat dihitung sebagai akhir dari hidup.

“Ayo ambil foto bersama” saran Suho.
 “Ayo!” selalu Chanyeol lah orang yang akan menimpali pertama, ia menarik Baekhyun, Jongin dan Kyungsoo untuk berdiri di pinggir panggung, Luhan juga menyeret Sehun yang masih memainkan game untuk ikut serta, Tao berlari untuk memanggil Jongdae dan Xiumin. Aku perlahan berjalan menghampiri sembari menyandarkan lenganku di bahu Yixing.

Aku pikir itu adalah jalan yang takkan pernah berakhir, tapi aku menjadi sendirian dengan kurang hati-hati. Tempat di samping bahuku kosong, orang, orang-orang tersebut, yang telah berjalan bersama denganmu, kau tak akan pernah tahu kapan mereka akan pergi dari kehidupanmu.

Jangan pernah menyangkal, momen terbaik di dalam hidupmu yang sedang kau alami.
Kau hanya tidak tahu apa itu.

---- Tamat.

Original Fanfiction  written by 辛辛息息
Indonesian Translation of this chapter by  citrahf

 Do not reupload, do not repost, respect copyrights, and use proper credits if linking this post
Don't forget to leave some comments ^^

Jumat, 30 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 21



“Ia telah lelap tertidur.” Keluar dari ruang monitor, aku berkata pada Mike, “berikan ia waktu sedikit lebih banyak lagi … kupikir ia mungkin capek.” Kataku.
Mike tidak sehidup sebelumnya, menggenggam dokumen-dokumen yang David telah serahkan padanya, ia mengangkat matanya yang mengerikan dan menatap Kris. Apa yang tersembunyi di dalam mata tersebut, aku tak dapat mengungkapkannya.

“Misiku selesai.” Aku tersenyum, menepuk pundak David.
Ia tersenyum, ingin mengatakan sesuatu tapi sirna. Dengan sedikit keraguan, ia mengambil berkas kasus, “pekerjaanmu selesai, bagaimanapun … Kataku, kau mungkin harusnya tahu hal-hal ini.” Ia menyerahkan padaku setumpuk dokumen, “lihatlah sendiri.”

Sejam kemudian, berjalan di koridor kantor pusat yang telah kosong, langkah kakiku tampaknya sangat kesepian.

Tentang kejadian selanjutnya … aku menemukan bahwa aku tak akan mengatakannya. Menyingkirkan cangkang lapis demi lapis untuk mengungkapkan kulit dan daging yang telah dimutilasi dengan sangat parah, kau lihat, setiap orang harus membiarkan beberapa hal akhir untuk mereka sendiri, bukan.

Dalam mungkin kurang dari satu jam tersisa di papan hitung mundur yang juga satu jam setelah kematian Yixing, ia memukulkan sebuah kursi ke jendela, kursinya hancur, tapi tidak ada hal lain yang terjadi.

Senin, 26 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 17


Kris POV

Aku tidak tidur hingga matahari terbit keesokan harinya. Aku benci insomnia seperti aku benci tidak jadi mabuk meskipun telah meneguk bergelas-gelas alkohol.
Aku melihat Yixing dari bawah kelopak mataku yang berat. Aku mengakui bahwa aku dilahirkan sebagai seorang yang pesimis, seperti bagaimana seorang Park Chanyeol yang dilahirkan sebagai seorang optimis.
Semenjak hanya ada dua orang tersisa di tim kita, sangat jelas bahwa kita tidak punya banyak kesempatan untuk menang. Aku masih mengingat bahwa ada satu peraturan yang misterius diantara sepuluh peraturannya, yang menyatakan bahwa dua orang terakhir yang selamat harus berada dalam tim yang sama. Ini berarti jika satu dari kita mati, satu orang lagi pasti akan terdorong ke jalan buntu. Kita bukan orang yang sangat cerdas, aku tersenyum, tapi dia lebih buruk; tidak ada jejak kekejaman dalam dirinya.
Ia membuka matanya dengan setengah mengantuk, ia menatapku  “Kapan kamu bangun ?”
“Barusan.” Kataku
“Apakah karena aku mendapat mimpi buruk ?” ia berpikir keras, kosong.
“Tidak” Kataku, “ Kita mungkin akan segera mati, jadi kita harus merayakannya dengan beberapa anggur.”
“Begitukah?” Dia tersenyum enteng sambil berdiri, “tapi biasanya aku makan yoghurt jika aku merayakan sesuatu.”
 Aku melihatnya aneh, menyeringai, “Jadilah orang dewasa”
Dia melihatku dan menendangku sekali.
Sore ini hujan mengalir; permainan akan selesai dalam waktu 12 jam. Aku tidak yakin jika aku akan dapat hidup untuk melihat hujan menetes lagi.

Minggu, 25 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 16

 Aku berpikir, nasibku dan hubungannya dengan kasus ini, bersamaan dengan laki-laki berambut emas yang pendiam, telah berakhir. Berjalan di sepanjang koridor kantor, aku mengetuk dokumen file secara ringan di dinding samping; Ini sudah berakhir, tapi aku masih merasa bahwa ini belum berakhir.
Tapi, begitulah kehidupan.
Kadang-kadang, takdir antara semua orang benar-benar aneh. Sibuk dengan hal-hal lain dalam kesehariannya. Terkadang, aku masih berpikir tentang anak laki-laki yang hanya bisa kutemui beberapa kali di dalam perjalanan pulang dari pekerjaanku. Aku akan mengingat bagaimana cara dia menuangkan secangkir teh, terkadang, kehangatannya akan muncul dalam sekejap di dalam pikiran saya, dan potongan demi potongan memori akan menumpuk secara terus menerus, menekan di dalam otak. Aku juga akan mengingat bayangan tangannya pada saat menggigil selama masa persidangan.
Akupun menyadari bahwa ini tidaklah normal, dan berpikir bahwa itu akan menjadi sangat penting bagiku untuk menemukan secepatnya pasangan di Bar.
Sesampainya di rumah, aku mulai melihat video masa lalu kelompoknya dan semua informasi. Tentu saja, ia merupakan standar tipe seorang pemimpin; Ia berusaha melalui berbagai macam jenis halangan untuk menjelaskan dan nama grupnya serta lagu di dalam album, terkadang ia juga bisa mengomel layaknya seperti orang tua. Aku mengenali dengan jelas wajah Luhan dan Yixing untuk pertama kalinya. Mereka sering bersama-sama, baik satu dengan yang lainnya atau menyebabkan gangguan pada orang-orang di sekitarnya dan Kris akan akan selalu mengawasi mereka dalam keadaan frustasi dan kegembiraan.

Selasa, 20 November 2012

48 HOURS - CHAPTER 15



Persidangan sedang dalam tahap percobaan.

Dalam pandanganku, pengalaman ini di luar dari dugaanku yg sesungguhnya dimana Lan sudah memberitahuku banyak hal yang menarik sebelumnya.

“Aku berharap untuk menyerahkan hasil evaluasi tes kejiwaan dari terdakwa, Wu Yi Fan kepada hakim” Dia menyerahkan dokumen kepada salah satu staff.

“Pikirannya dalam keadaan stabil, dia bisa memberikan tanda bahwa dia dapat mempertanggung jawabkan kesaksiannya” diikuti ucapannya, dia menyerahkan dokumen yang lain.

“Evaluasi tes kejiwaan dan kesaksiannya, kedua-duanya sah” Hakim berbicara sedikit sesaat kemudian.

“Menurut keterangan saksi yang diberikan oleh pihak kepolisan, terdakwa tidak hanya menyembunyikan beberapa kebenaran kepada kami, dia juga menggelapkan kebenaran tanpa hak” Dia menggerakkan tubuhnya untuk meneruskan.

“Pada awalnya, vila tersebut tidak seperti tersembunyi dan tersegel seperti kesaksiannya.” Dia menunjuk kepada kaca jendela di atas atap dapur. “Menurut bab 3 baris ketujuh, tersangka menyatakan bahwa salah satu korban, Park Chanyeol, pernah mencoba sekali menggunakan panci untuk menghancurkan jendela tetapi tersangka menghentikannya dengan cepat karena dia takut akan ada beberapa hukuman setelah mencoba menghancurkannya. Namun, pada kenyataannya, kaca jendela tersebut sudah hancur.”

Aku terdiam saat melihat kaca jendela yang pecah sudah menyerupai jendela lagi.

“Hal ini menyebabkan bahwa sisa dari kesaksiannya terlihat tidak logis dan tidak sah. Karena pada kenyataannya atap jendela itu sudah hancur.” Lan berbalik untuk menatap para juri. “Mereka harusnya menyadari bahwa semua jendela di ruang dapur pada kenyataannya terbuat dari kaca biasa dan masuk akal bahwa mereka bisa selamat.”

“Kedua, menurut bab 7 baris kedua belas dari kesaksiannya, tersangka menyatakan bahwa pintu yang paling tinggi di ruang bawah tanah terkunci dan menghalangi pelarian mereka. Padahal, yang sesungguhnya adalah, kunci pada pintu tersebut terbuka, hanya saja selot pintunya terkunci.”

“Apakah ada sidik jari atau jejak dari mereka yang terlibat yang ditemukan di pintu?” Hakim bertanya.

Senin, 29 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 10




Frank’s POV

Kris tertidur di atas meja kantor, bahkan beberapa gelas tehpun tidak mampu menahan rasa kantuknya, untuk seseorang seperti dia yang tidak bisa tidur selama mungkin 3 hari, tidur merupakan hal yang menguntungkan untuknya saat ini.

Sepertinya percakapanku dengan dia sudah mengurangi tekanan yang dialaminya dan sebagai dokter aku sangat senang.

Saat aku berjalan keluar dari ruang kontrol dengan cangkir kosong, aku melihat Mike melambai ke arahku terus menerus. Aku berjalan dengan senyum dan meletakkan cangkir kosong di tangannya, "Apakah tidak nyaman untuk ditonton?"

"Kau begitu menakjubkan!" Matanya bersinar, "Kau perlu tahu bahwa aku belum berada di rumah selama lebih dari 24 jam dan pacarku berpikir aku akan kawin lari denganmu."

"Oh, apakah itu benar?? Aku berkedip padanya, "Sepertinya pacarmu lebih tahu bagaimana menghargai pesonaku."

"Simpan kalimatmu." Dia menjawab acuh tak acuh. "Tapi memang benar bahwa Tuan yang terselamatkan bisa terpikat dengan pesonamu."

"Tentu saja. Ini adalah kewajibanku untuk membuat anak yang sedang  marah kembali bahagia." Kataku dan sambil berjalan menuju kamar mandi, "Jangan lupa untuk membawa dua cangkir teh ini, ini bukan akhir yang sederhana."

Mike mengambil cangkir dengan malas, "Yah, aku seorang bartender. Lanjutkan saja menyemangati  anak kecil yang lucu dan emosional itu, kami akan bertanggung jawab untuk mengamatimu dari luar."


Saat aku baru keluar dari kamar mandi, aku melihat Kris yang masih tertidur, rambut emasnya yang acak-acakan berada di atas meja.

"Pada data jelas yang masuk ke fileku, Bisakah kau tidak mengungkapkan beberapa hal penting yang awalnya hanya diketahui oleh orang dalam." kataku disamping David, kepalanya yang botak dan licin terkadang membuatku untuk tidak bisa menjadi serius saat berbicara.

"Dengar, Frank. Kematian akan menjadi hal yang sangat menakutkan. Tanpa pelatihan yang baik, aku takut hatimu tidak bisa menerimanya." katanya.


Kamis, 25 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 9



Di depan mesin Dance Revolution, Sehun menyipitkan matanya dan berbalik, "Jangan menyerah padaku." Katanya.

Dengan kepala menghadap ke depan, Luhan mengatakan, "Itu mungkin bisa jadi alasan yang bagus. Jika kau menang, tolong nanti beritahu orang-orang bahwa aku menyerah padamu dan bukan karena aku bermain dengan buruk."

"Kau akan menghadapi kematian. Bisakah kau jangan bercanda seperti anak kecil?" Cemberut Sehun.
"Siapa bilang aku akan mati," Luhan mencoba pemanasan, "Meskipun aku hanya beberapa tahun lebih tua dari kau, bukan berarti aku tidak lincah memainkan ini."

"Kau adalah senior yang paling tidak tahu malu yang pernah kutemui." Sehun menggelengkan kepalanya.
"Dan kau, kau adalah si bungsu yang paling sombong yang pernah kutemui." Luhan tersenyum sambil memberikan komentar.

"Apakah kita bisa memulainya?" Luhan berpaling pada Sehun, "Sebaiknya kau melakukan yang terbaik karena belum pernah ada yang menang melawanku dalam permainan ini."

Minggu, 21 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 6


Keesokan sorenya, suara dentingan gelas dan botol dari luar samar-samar membangunkanku. Semua orang mengerutkan alis mereka mungkin karena jetlag dan ketakutan,  tapi tetap saja tidak ada yang mampu melawan kelelahan.

"Apa yang mereka lakukan?" Sehun membalikkan tubuhnya seraya mengggumam.
"Seseorang mungkin akan datang untuk menyelamatkan kita," aku menutup mata lagi dan mengerutkan alisku "Kebenaran terungkap, dan ada polisi diluar."
"Jelas itu adalah hal yang terbaik, namun..." kata Kyungsoo, "Bukankah kau pikir mereka datang agak sedikit terlambat?"
Baekhyun mengucek matanya dan berdiri, menatap pintu dan berkata, "Aku akan pergi keluar dan melihat."
Saat ia berdiri, kuhadapi rasa lelahku, berjuang untuk bangkit dan terhuyung-huyung ke arahnya, "Aku akan ikut denganmu."

Kami kecewa karena tidak ada polisi dimana-mana, melainkan hanya Chanyeol dan Luhan yang sedang menempatkan beberapa gelas kosong di meja. Jongin dan Tao sedang duduk di sofa, masing-masing memegang 3 botol Vodka dan Tequila dan bersuara kepada kami, "Kami terlalu haus dan kami menemukan beberapa botol alkohol, mari kita minum bersama."
Sebuah Scorpion hitam yang tertidur digambar pada meja kaca dalam semalam, dan seketika, kecepatan detak jantungku jadi tidak karuan.
"Siapa yang menggambar ini?" Kata Baekhyun.
"Aku." Kata Chanyeol, "Kalian datang terlambat, dan aku merasa bosan jadi aku menggambar sedikit."
"Apakah kau begitu merindukan Kris?" Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol dan mendorongnya sedikit, mengucek matanya, berbalik dan kembali berjalan ke kamar tidur. Ia mengetuk pintu dan berteriak, “Bangun! Kita akan minum alkohol!”
Aku menatap Scorpion yang digambar di atas kaca dan hatiku berdebar. Samar-samar aku teringat sesuatu, tapi rasanya seperti mimpi.

Sabtu, 20 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 5


"Leader!” seru Chanyeol dengan mulut ternganga, saat ia menuruni  tangga, berlutut dan menyaksikan Junymeon tak berdaya. Jongin berlari mendekati dan mengangkat kepala junmyeon, meletakkannya di pahanya dan berusaha menghentikan darah yg keluar dari dada junmyeon  dengan telapak tangannya, sepotong serpihan kaca tertancap di tulang rusuk kanan Junymeon, dan yang ia bisa lakukan hanyalah terengah-engah tanpa berkata apapun.

"Leader! Leader! kau tidak boleh mati!" tangis Chanyeol saat ia melihat nafas Junmyeon yang makin menipis. "Aku, aku .. mengapa .. Aku yang jadi leader? "
Baekhyun tak dapat mengucapkan apa-apa.
Jongin perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat Baekhyun, kemudian ke arah kami, Chanyeol mendorong baekhyun dengan kuat, air matanya jatuh.  “Apa yang telah kau lakukan!" Seketika, Baekhyun mulai menangis juga dan menggelengkan kepalanya terus menerus.
Yixing berjongkok dan memegang bahu Baekhyun itu, "Ambil nafas sejenak, ceritakan  apa yang terjadi."

"Aku keluar mencari air" Baekhyun memandang Yixing lemah.
"Aku tahu, lalu?" Tanya Yixing.
"Aku berjalan ke sisi sofa dan menemukan seseorang...... memakai topi, berdiri tepat di samping cermin dengan pisau...... dan juga obor...." Kata Baekhyun  tarbata-bata.
 "Dia menatapku, memegang pisau di samping wajahnya dan mendekatiku...." Baekhyun berbicara dan mulai menangis.
"Lalu.... kemudian.... tangannya mendekatiku..... jadi aku mendorongnya.... " katanya, "ia jatuh ke belakang dan cermin itu hancur. "
"Dan kau terus membunuhnya?" Tanya Tao
"Tidak! Bukan begitu! Aku tidak bermaksud! Aku tidak bermaksud! " ia menatap semua orang, panik.
"Dia terjatuh ke lantai dengan suara parau dan mengatakan sesuatu yang  tidak bisa aku mengerti...."
Mata Baekhyun nampak kesulitan untuk mengingat semua yang terjadi dalam gelap , "Kemudian, kemudian, ia merangkak ke arahku dan meraih tanganku ........"

Kamis, 18 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 4


Aku mesti mengakui, itu adalah salah satu dari pembalasan yang aku pernah lakukan. Namun, itu jelas tindakan yang salah dan berujung bencana.

"Tao." Kata Luhan dengan kepala sedikit tertunduk setelah beberapa detik terbisu.
Tao melompat setelah membeku selama dua detik, "Sialan! Luhan mengapa kau melampiaskan kemarahanmu padaku!"
"Aku tidak melampiaskan kemarahanku padamu." Pada saat ini rumah ini telah menjadi sebuah panggung untuk komunikasi dalam bahasa China dan semua orang terlihat seperti orang dungu yang mencoba mengartikan apa isi dari argumen-argumen mereka. Bagaimanapun, hal ini tidak terlalu menantang untuk disadari, dari sejak Jongin memilih Luhan, mulut Chanyeol tidak pernah bisa tertutup*.

Luhan mengangkat kepalanya untuk menatap Tao, "Aku memiliki alasan tersendiri memilihmu."
"Aku tidak mau bergabung!" wajah  Tao memerah.

48 HOURS - CHAPTER 3


Ini adalah hitungan mundur seperti angka-angka yang mengalami proses penyusutan. Seiring waktu berakhir detik demi detik, rumah itu terbenam ke dalam keheningan yg memekakkan telinga.

"Mereka mengatakan kepada kita ... tidak ada jalan keluar dari sini dan selain itu, ada pisau terbenam di dalam kalung ini.” Kata Chanyeol, wajahnya bergidik ngeri.
"Dalam waktu 2 hari, hanya akan ada satu orang yang bertahan." Aku melihat ekspresi ketakutan mereka.
"Dan juga, kita harus dibagi menjadi 2 kelompok, dua orang terakhir yang bertahan hidup harus berasal dari kelompok yang sama." Kata Luhan, "Jika ada pelanggaran aturan", ia menunjuk pada lehernya, "Pisau itu yang akan berperan, muncul dari kalung ini. "

Setiap orang tanpa terkecuali berubah diam, satu-satunya suara berasal dari jam hitung mundur, tak henti-hentinya berdetik, terus berkurang.

"Metode Tim ..." Jongdae berbisik, "Dua orang yang paling dekat dengan pintu akan menjadi kapten, mereka akan mulai dengan memilih anggota tim, yang dipilih kemudian akan melanjutkan untuk memilih orang berikutnya dan seterusnya sampai semua orang sudah terbagi ke dalam 2 kelompok."

Semua orang berbalik, menatap pada dua orang yang berdiri paling dekat dengan pintu, Minseok dan Zhang Yixing.

Rabu, 17 Oktober 2012

48 HOURS - CHAPTER 2



KRIS' POV

Cuaca LA lebih dingin dari yang diperkirakan, tapi selain itu, hari itu tidak ada yang berbeda. Sebelum pendaratan pesawat, kami berjalan menuju area bagasi. Chanyeol, Baekhyun dan Jongin berjalan didepanku dan terdengar olehku suara lengkingan Baekhyun dan tawa berat Chanyeol. Leader Junmyun, D.O, Jongdae dan Minseok berada di bagian tengah ketika Luhan dan Sehun terus menempel berduaan seperti biasanya dan bertindak seperti tak dilihat oleh siapapun. Tao disebelahku menunjukkan ekpresinya yang frustasi karena foto predebutnya yang tersebar di internet kemarin malam. Yixing seperti biasanya terdiam di belakangnya berkutat dengan headphone di telinganya memperhatikan sekitarnya.

Aku memperlambat langkahku padanya, menariknya menghadapku,”Kamu harus berheti mendengarkan musik kalau tidak kau tidak akan medengar orang memanggilmu nanti.” kataku. Dia melihatku kebingungan dan memberikan ekspresi mengerti, ”Ok. No problem.” Namun dia masih belum mau melepaskan headphonenya. Aku berbalik pasrah dan kembali pada Tao dan masalah yang dia pikirkan. Aku tetap pada moodku yang sedang tidak baik karena insomniaku semalam, aku memikirkan Yixing yang ditegur manajer dan diberikan sedikit skorsing dan itu berarti liburanku akan terbuang juga.

“Kenapa kau terlihat kesal dan berekspresi seperti orang tuamu meninggal saja? Atau ada yang kurang jelas dari ucapanku?” Luhan selalu banyak bicara seperti biasa saat kami menunggu koper kami.  Yixing melepaskan headphonenya, ia berkata,”Dia diam-diam sedang turut berduka cita atas hidupmu.”